Sleman, Pesantren.id - Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII Tingkat Kabupaten Sleman sukses digelar di Afkaaruna Primary School, Sleman, pada Ahad (16/6/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Menyiapkan Generasi Tangguh Iklim” ini diikuti oleh sekitar 150 peserta, yang terdiri dari guru madrasah, sekolah umum, dan pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW PERGUNU) DIY, sebagai organisasi penyelenggara TPN Daerah yang ditunjuk secara resmi oleh Guru Belajar Foundation, bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, serta didukung oleh berbagai organisasi profesi guru lainnya seperti PGRI Kabupaten Sleman, DPW AGPAII DIY, Lingkar Dunia Belajar, dan PGSI.
Menariknya, dalam pelaksanaan kegiatan ini, PERGUNU DIY membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya tanpa memandang latar belakang organisasi, afiliasi, maupun keyakinan. Sejumlah guru dari kalangan Muhammadiyah bahkan hadir dalam kegiatan ini, begitu pula beberapa peserta non-Muslim yang antusias mengikuti rangkaian acara. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan untuk memajukan pendidikan Indonesia demi menghadapi tantangan krisis iklim secara bersama-sama.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, S.Sos., yang hadir mewakili Bupati Sleman H. Harda Kiswaya, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran guru sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.
“Guru adalah ujung tombak pembentukan karakter peserta didik. Jika sejak dini siswa dibiasakan peduli lingkungan, maka akan lahir generasi tangguh yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Ia juga mendorong semua sekolah di Sleman untuk menjadi contoh dalam praktik ramah lingkungan melalui program penghijauan, pengelolaan sampah, penghematan energi, serta konservasi air.
Hadir pula Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., yang menekankan pentingnya literasi lingkungan hidup di lingkungan madrasah dan pesantren.
“Madrasah dan pesantren harus turut membangun budaya peduli lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PW PERGUNU DIY, KH. Samsul Maarif Mujiharto, Ph.D., menyampaikan komitmennya dalam mendorong para guru untuk tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
“Guru harus menjadi pelopor perubahan perilaku baik di sekolah maupun masyarakat. Budaya menjaga lingkungan harus menjadi kebiasaan positif sehari-hari,” tegasnya.
Sebagai Ketua Panitia, Ahmad Faozi, S.Psi., M.Pd., berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya mitigasi krisis iklim.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin para guru tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga menjadi motor penggerak kesadaran iklim di tengah masyarakat. Inilah wujud nyata kolaborasi pendidikan lintas batas untuk kemajuan Indonesia yang lebih hijau dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan talkshow bertema “Peran Guru dalam Mitigasi Krisis Iklim”, dengan narasumber:
Nismatul Khoiriyah, S.Pd., M.S.I. (Guru Berprestasi DIY),
Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum. (Kakanwil Kemenag DIY),
Sari Oktaviana, S.Sos., M.A. (Pengembang Kurikulum Nasional),
serta dipandu oleh Hj. Nur Jannah, M.Si., Koordinator Bidang Peningkatan Kapasitas Guru PW PERGUNU DIY.
Acara berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi, tanya jawab, dan berbagi praktik baik. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir gerakan pendidikan lingkungan di Sleman yang melibatkan semua elemen guru dari berbagai latar belakang organisasi, demi terwujudnya generasi tangguh yang peduli dan siap menghadapi perubahan iklim. []