Press ESC to close

Perempuan Ulama di Panggung Sejarah (4)

RABI'AH AL-'ADAWIYAH

Pada dini hari yang sepi, Rabi'ah bangun. Hatinya gundah gulana. Ia segera bangkit, mengambil air wudu dan bermunajat.

إلهي.. أنا يتيمة معذَّبة في قيود الرِّق وسوف أتحمَّل كل ألم وأصبر عليه، ولكن عذاباً أشدّ من هذا العذاب يؤلم روحي ويفكِّك أوصال الصبر في نفسي. الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى اعطنى محبتك.ومعرفتك. هذا هو غايتى. يا الهى.

Rabi'ah tiap malam "Munajat" kepada Allah, sambil menangis, tersedu-sedu. Dalam munajat itu ia mengatakan :

Tuhanku. Aku perempuan yatim piatu yang menderita dalam belenggu perbudakan oleh manusia. Aku rela menanggung sakit dengan seluruh kesabaran yang aku miliki. Biarlah. Derita ini tak seberapa berat dibanding dengan derita yang akan aku alami di akhirat kelak yang akan membakar ruhku dan melepaskan kesabaranku?. Wahai Tuhan. Kerelaan-Mu lah satu-satunya harapanku, Anugerahi aku rasa cinta kepada-Mu dan pengetahuan tentang-Mu. Wahai Tuhanku. Itulah puncak cita-citaku".

Begitulah Rabi'ah bermunajat setiap malam. Hatinya selalu dilanda gelisah. Ia menjadi jarang tidur.

Nah, pada suatu malam, manakala Rabi'ah tengah khusyuk bermunajat, kamar Rabi’ah berpendar cahaya. Lampu di atas kepalanya berputar-putar mengelilingi kepalanya. Tuan rumah melihat cahaya itu, dan ia terperangah dalam kekaguman yang luruh. Esok harinya, Rabi’ah dibebaskan dan menjadi orang merdeka. Majikan itu merendahkan diri di hadapannya sambil memohon maaf atas perlakuannya kepada Rabi'ah selama ini.

Rabi’ah selanjutnya menempuh hidup sebagai “abidah”, pengabdi Tuhan seperti biarawati dalam dunia Kristen. Ia menyusuri jalan cahaya, mengunjungi pengajian para sufi, di kota itu. Rabi'ah antara lain mengunjungi Hasan al-Basri, pemimpin para sufi terkemuka di zaman itu yang kepadanya hampir semua sufi sesudahnya berguru.

Banyak teman mengolok-olok sikap hidupnya itu. Mereka seperti tak setuju dengan jalan hidup barunya. Rabi’ah mengatakan : “O. Tuhan, mereka mencemoohku, lantaran aku mengabdi hanya kepada-Mu. Demi Kemuliaan dan Keagungan-Mu aku akan mengabdi kepada-Mu dengan seluruh darah dan nafasku”.

Ia menggubah puisi indah :

يَا ذَا الَّذِى وَعَدَ الرِّضَا لِحَبِيبِهِ
أَنْتَ الَّذِى مَا اَنْ سِوَاكَ أُرِيدُ

Duhai Yang berjanji menyambut dengan riang kekasih-Nya
Duhai, Kau Yang tak ada yang lain yang aku harapkan. [HW]

Bersambung!

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Nyai Hj Durroh Nafisah:  Ahli Al-Qur’an Yang Istiqomah, Grapyak dan Mandiri (2)
Suami, Perhatikan 3 Hal Ini Kalau Istri Habis Melahirkan
Kasus Bullying dan Kekerasan Seksual Meningkat, Ning Nawal Taj Yasin Jelaskan Kiat Pesantren Jadi Tempat Ramah Perempuan dan Anak
Tingkatkan Kesadaran Gender, KOPRI PMII UIN Sunan Ampel Sukses Menggelar Seminar Nasional

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.