Abad Kedua NU: Visi Agama untuk Perdamaian Dunia
Oleh: Ferdiansah
Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Lembeyan Magetan
Judul : Nahdlatul Ulama Abad Kedua, Islam Nusantara dan Siyasah Peradaban
Penulis : Dr. Ahmad Suaedy, M.Hum
Cetakan : Pertama, Juni 2025
ISBN : 978-623-89951-1-0
Penerbit : UNUSIA Press
Belakangan ini dunia global sedang tidak baik-baik saja, mulai dari problem perang Palestina-Israel, perang Rusia-Ukraina hingga problem tarif trump terhadap kebijakan ekonomi di seluruh negera di dunia. Di sisi lain, problem benturan antar agama masih menjadi percikan kecil yang terus menggema di berbagai ruang di masyarakat. Untuk itu, buku karya Ahmad Suaedy ini memberikan landskap penting mengenai posisi dan peran NU dan bagaimana NU menyongsong visi besar agama di Abad Kedua.
NU dalam perjalanannya di abad kedua, mengambil peran lebih luas tidak hanya di tingkat nasional, namun juga global. Tak pelak, pada kepemimpinan Gus Yahya Cholil Staquf, ia menginisiasi pertemuan R20 (Religion Twenty), sebuah pertemuan para komunitas agama dari 20 negara. Baginya, sudah saatnya agama ikut andil dalam memecahkan puspa ragam persoalan global, mulai dari ketegangan, kekerasan, kemiskinan dan kesenjangan yang semakin menyulut krisis global (hlm.09).
Selain itu, Bagi Gus Yahya, beragam problem dunia saat ini berakar dari masih mengakarnya doktrin klaim kebenaran (truth claim) yang pada gilirannya menyiram ketegangan, konflik dan polarisasi di masyarakat. NU dalam konteks ini, berperan sebagai Juru Damai di panggung dunia. NU mengemban misi besar sebagai pencerminan kasih sayang universal dalam Islam—rahmatan lil ‘alamin—dan mengambil posisi sebagai juru damai global. Menurut Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Haris Shodaqoh, peran ini merupakan pemenuhan tanggung jawab spiritual dan moral, yang mengakar pada akidah, syariah, dan akhlak NU yang berbalut moderasi dan toleransi.
NU menerjemahkan semangat ajaran melalui tiga dimensi ukhuwah, yaitu Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan universal). Trilogi ini diwariskan oleh Rais ’Aam terdahulu, KH Achmad Siddiq, diperluas secara intelektual oleh KH Abdurrahman Wahid, dan diperkuat dalam praktik oleh kepemimpinan Gus Yahya Cholil Staquf.
G20 Religion Forum (R20)—yang melahirkan deklarasi penting: Piagam PBB dan eksistensi PBB mendapat legitimasi dari sudut pandang syariat Islam. Ini menunjukkan NU juga aktif merumuskan landasan hukum dan moral global di dunia modern.
Islam Nusantara, sebuah pendekatan Islam yang moderat, inklusif, dan toleran, menjadi sarana penting NU membingkai dialog antar budaya. Nilainya mencerminkan tawasuth (jalan tengah), tasamuh (toleransi), dan tawazun (keseimbangan) yang dipersilakan hidup berdampingan dengan tradisi lokal. Konsep ini mengedepankan Islam sebagai rahmat bagi semesta, bukan sebagai sumber konflik.
Dalam RoadMap NU menghadapi abad kedua, NU menekankan pentingnya inovasi yang berkelanjutan tanpa melepas tradisi. Prinsip al-muhafadhah 'alal qadimish-shalih wal akhdzu bil jadidil-ashlah menekankan keseimbangan antara memelihara nilai lama yang baik dan mengadopsi hal baru yang lebih baik. Prinsip ini memperkuat posisi NU sebagai subjek aktif perubahan demi perdamaian.
Menurut visi NU, kedamaian global dapat dicapai dengan memastikan lima tujuan utama agama (maqasid al-syariah): menjaga agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Dengan demikian, NU memandang perdamaian dunia bukan semata kata, melainkan realisasi tujuan agama yang mendasar. Wakil Presiden Ma’ruf Amin (2019-2024) menegaskan pentingnya membentuk umat yang khairu ummah, dengan nilai kejujuran, keadilan, amanah, dan ketangguhan (resilience). Dia menekankan bahwa perdamaian dunia lahir dari kuatnya fondasi persaudaraan antar individu.
NU menyeru agar Islam tidak dipolitisasi dan mengajak semua pihak—lintas agama dan kebangsaan—untuk bergabung mewujudkan konsensus global demi kemaslahatan bersama. Islam Nusantara bertindak sebagai etika alternatif dalam menjaga peradaban, sementara jaringan PCINU di seluruh dunia menjadi jembatan diplomasi perdamaian.
Bagi Gus Yahya, fiqh siyasah Islam ala NU harus dibangun dalam kerangka kesetaraan manusia. Agama di ruang publik harus menegakkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan universal (hlm. 11). Dalam hal ini, NU telah menghapuskan identitas dan penyematan kafir terhadap non Muslim, dengan segala konsekuensi sosialnya. Mereka dianggap setara sebagai warga bangsa dan kelompok beragama (hlm. 106). Suatu terobosan penting untuk mempersempit ruang perpecahan sosial keagamaan di masyarakat.
Akhirnya, buku Ahmad Suaedy ini penting karena NU di abad kedua ini digambarkan akan menjadi fasilitator perdamaian dunia sehingga konflik antar agama bisa direduksi serta NU sudah selayaknya menjadi katalisator agar wajah suram agama menjadi lebih cerah di mata dunia.