Nyai Khoiriyah adalah anak pertama dari Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng dengan istri Nyai Nafiqoh binti KH Moh Ilyas dari Sewulan Madiun. Nama Nyai Khoiriyah dikenang sebagai sosok pejuang dari pesantren yang gigih memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, terutama dalam dunia pendidikan. Kontribusi di bidang ini tidak jauh beda dengan nama RA Kartini dan Dewi Sartika.
Bersama sang suami, Nyai Khoiriyah mendirikan Pondok Pesantren Seblak sejak tahun 1921. Namanya juga dikenang sebagai pendiri Madrasah Kuttabul Banat (Madrasah Lil Banat) tahun 1942 di Mekkah. Ini adalah sekolah khusus perempuan pertama kali yang berdiri di Arab Saudi. Tidak heran jika kemudian Nyai Khoiriyah memperoleh hadiah cincin emas dari raja Arab Saudi saat itu.
Sosok Gigih
Buku berjudul Nyai Khoiriyah Hasyim Asy’ari: Pelopor Pendidikan Kaum Perempuan karya Vivid Rohmaniyah ini menampilkan sosok Nyai Khoiriyah sebagai teladan santri. Dilahirkan pada tahun 1908, sejak kecil Nyai Khoiriyah sudah gemar ilmu. Baik belajar langsung kepada ayahnya dari balik tabir maupun belajar secara otodidak. Ini menjadikan fondasi keagamaan yang kuat dalam diri Nyai Khoiriyah kecil (hlm 2-3).
Meski saat itu kaum perempuan masih belum memperoleh kesempatan menimba ilmu seperti kaum pria, Nyai Khoiriyah memanfaatkan waktu belajar dengan tekun. Bekal saat menimba ilmu di usia muda ini kemudian menjadi modal sangat berguna ketika Nyai Khoiriyah di kemudian hari mendirikan pesantren dan madrasah khusus perempuan.
Nyai Khoiriyah muda menikah dengan KH M Ma’shum Ali, cucu KH Abdul Jabbar pendiri Pesantren Maskumambang Gresik. Suaminya adalah santri generasi awal dari Hadratussyaikh saat mendirikan Pesantren Tebuireng. Pernikahannya ini melahirkan tujuh anak, yaitu Hannah, Abdul Jabbar, Abidah, Ali, Djamilah, Mahmud dan Karimah. Namun yang hidup dan memiliki keturunan hanya Abidah dan Djamilah (hlm. 29).
Kiai Ma’shum meninggal dunia pada tahun 1933. Sekitar empat tahun kemudian Nyai Khoiriyah dinikahkan oleh Hadratussyaikh dengan KH Muhaimin Lasem yang sudah lama mukim di Mekkah dan menjadi pimpinan Madarasah Darul Ulum. Tidak lama kemudian Nyai Khoiriyah menyusul ke Arab Saudi dan tinggal di sana selama 19 tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air atas permintaan Presiden Soekarno yang sedang kunjung kerja ke sana.
Buku karya Vivid Rohmaniyah ini menarik dari dua hal. Di dalamnya berisi konsep pendidikan yang digagas Nyai Khoiriyah. Bahwa keberhasilan pendidikan sesorang sangat dipengaruhi faktor pembawaan dan lingkungan. Ini bisa dibaca dari dua tulisan, yaitu halaman 19-25 dan halaman 57-56.
Berbagai kiprah yang sudah dilakukan Nyai Khoiriyah dipaparkan secara apik oleh penulis. Mulai dari memimpin Pesantren Seblak, mendirikan Madrasah Kuttabul Banat di Mekkah, membuka pelatihan tahlil, membuka kursus menjahit hingga mendirikan perpustakaan (hlm 87-117). Hal ini menunjukkan bahwa Nyai Khoiriyah bukan sekedar sosok konseptor, namun juga aktor yang mampu memobilisasi komunitasnya.
Di dalam buku ini mengurai berbagai peran perjuangan Nyai Khoiriyah untuk memajukan pendidikan Islam dan mengangkat derajat kaum perempuan. Nyai Khoiriyah menerapkan pola pikir krits, kreatif dan aktif kepada para santri dalam proses pembelajaran. Tidak ada pembagian kurikulum perempuan dan laki-laki. Keterampilan menjahit, memasak dan koperasi diberikan kepada semua santri yang berminat mendalami keterampilan tersebut.
Nyai Khoiriyah menghembuskan nafas terakhir di RSUD Jombang. Jenazahnya dimakamkan di area maqbaroh Pesantren Tebuireng. Atas dedikasi dan perjuangan dalam mengangkat derajat kaum perempuan, namanya diabadikan menjadi nama Yayasan Khoiriyah Hasyim, berkedudukan di Seblak Jombang. Yayasan inilah yang kemudian meneruskan perjuangan Nyai Khoiriyah di dunia pendidikan, dengan mendirikan unit KB/TK, MI, MTs, MA, Madrasah Diniyah, Panti Asuhan dan pondok pesantren.
Kajian Ilmiah
Buku karya Vivid Rohmaniyah berjudul Nyai Khoiriyah Hasyim Asy’ari: Pelopor Pendidikan Kaum Perempuan ini makin melengkapi dua buku sebelumnya tentang sosok Nyai Khoiriyah. Sebelumnya Eka Srimulyani, guru besar UIN Ar-Raniry Aceh, menulis buku berjudul Women from Traditional Islamic Educational Institutions in Indonesia: Negotiating Public Spaces, yang diterbitkan oleh Amsterdam University Press (2012).
Eka menulis studi mendalam yang mengangkat biografi dan kiprah Nyai Khoiriyah sebagai pionir otoritas kepemimpinan perempuan dalam institusi pendidikan Islam tradisional (pesantren) di Indonesia. Hasil riset ini sebelumnya juga dipublikasikan dalam berbagai platform ilmiah internasional, salah satunya termuat dalam ulasan di Inside Indonesia yang membahas visi bersama tokoh-tokoh perempuan muslim Indonesia dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan.
Kedua adalah buku berjudul Nyai Khairiyah Hasyim Asy'ari: Pendiri Madrasah Kuttabul Banat di Haramain karya Amirul Ulum. Buku ini diterbitkan oleh Global Press Yogyakarta (2019). Lewat riset sejarah, Ulum berhasil mendokumentasikan dengan apik kisah hidup Nyai Khoiriyah yang sempat jarang terekspos oleh publik. Buku ini menempatkan Nyai Khoiriyah sebagai salah satu "ulama perempuan yang terlupakan" oleh khalayak ramai. Di dalamnya juga dibahas biografi KH M Ma’shum Ali, suami pertama Nyai Khoiriyah, dan KH Muhaimin Lasem, suami kedua (Jawa: sambung) dari Nyai Khoiriyah.
Penelitian serius dilakukan Muzayanah Hamas saat menyusun skripsi berjudul Nyai Hj Khoiriyah Hasyim (1908-1983): Tinjauan Historis Tentang Figur Pendidik dan Pejuang Emansipasi Wanita. Karya ini ditulis saat menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah Pendidikan Islam Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya (1997). Hasil riset ini pasti dirujuk oleh para peneliti atau penulis yang hendak mengkaji Nyai Khoiriyah. Namun sayang karya komprehensif dengan dukungan data dan dokumen primer ini belum diterbitkan menjadi sebuah buku.
Begitu juga dengan tulisan karya Ninda Novalia berjudul Ulama Perempuan dan Dedikasinya dalam Pendidikan Islam: Studi Pemikiran Nyai Khoiriyah Hasyim. Penelitian ini berupa skripsi di UIN Walisongo Semarang tahun 2019.
Meskipun demikian, sosok Nyai Khoiriyah menjadi figur yang sering menjadi objek kajian dari berbagai publikasi artikel jurnal ilmiah. Sebut saja Soraya Al-Azizah di Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Keislaman (2025), Badrah Uyuni dan Mohammad Adnan di Jurnal Internasional Edujavare (2020), Fitrotul Muzayanah di The International Journal of Pegon (2020), Rachel Farah Rifai di Minaret: Journal of Religious Studies (2025), Dana Iswari Maghfiroh di Jurnal Tabyin (2024), Muhammad Ainul Yaqin di Jurnal Ilmiah Nusantara (2025), Vivid Rohmaniyah di Jurnal Studia Religia (2023), Syafitri Hayati Hsb di Gunung Djati Conference Series (2023) dan Ida Zahira Adibah di Jurnal Wahana Akademika (2015).
Itu belum termasuk belasan artikel ilmiah populer atau opini yang dipublikasikan di media massa, baik online maupun cetak. Publikasi ini menyorot kontribusi Nyai Khoiriyah di banyak bidang. Mulai dari pendidikan, perjuangan hak-hak perempuan, sosok pemimpin, organisatoris maupun figur ulama perempuan Nusantara.
Nyai Khoiriyah adalah mutiara terpendam dari dunia pesantren yang belum banyak dikaji masyarakat luas. Perlu terus menerus dilakukan riset serius agar sosoknya mampu ditampilkan dan dibaca oleh kaum muslim Nusantara, bahkan dunia.
Judul Buku : Nyai Khoiriyah Hasyim Asy’ari: Pelopor Pendidikan Kaum Perempuan
Penulis : Vivid Rohmaniyah
Penerbit : Dhawuh Guru Yogyakarta
Edisi : I, Agustus 2026
ISBN : 978-623-10-3138-9
Tebal : viii+155 hlm
Ukuran : 13 x 19 cm
Oleh: Mukani, Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang