Press ESC to close

Jejak di Atas Jembatan Mustaqim

Perjalanan panjang pendidikan formal sering kali menyerupai sebuah jalur produksi raksasa. Ia berdiri megah dengan kurikulum, ijazah, gelar, dan serangkaian standar yang disusun begitu sistematis. Dari luar tampak seperti jalan kemajuan, namun di dalamnya terdapat kecenderungan yang sunyi: manusia diperlakukan seperti produk yang dicetak seragam, dipoles agar sesuai kebutuhan zaman, pasar, dan kekuasaan.

Tiyo adalah salah satu anak muda yang mulai menyadari hal itu sejak bangku SMP dan SMA. Di saat banyak orang masih memandang sekolah sebagai tujuan akhir, ia melihat bahwa sekolah hanyalah salah satu lorong dalam labirin kehidupan. Ia menyaksikan bagaimana angka-angka rapor sering kali lebih dihargai daripada kejujuran, bagaimana kecerdasan diukur melalui lembar ujian, sementara kebijaksanaan tidak pernah masuk dalam mata pelajaran.

Kesadaran seperti itu bukanlah sesuatu yang lahir dari pemberontakan semata, melainkan dari kegelisahan yang jujur. Sebab pada akhirnya manusia tidak dilahirkan untuk menjadi salinan satu sama lain. Setiap jiwa membawa kemungkinan yang unik, sebuah amanah yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar nilai, pangkat, atau gelar.

Kegelisahan itu mengingatkan pada peringatan yang pernah disampaikan oleh W. S. Rendra. Bahwa manusia harus berhati-hati terhadap segala bentuk penyeragaman yang mematikan daya hidup batin. Namun sesungguhnya jebakan tidak hanya berada dalam dunia pendidikan formal. Seluruh kehidupan ini adalah rangkaian ujian yang berlapis-lapis.

Kita berjalan di atas sebuah jembatan yang sempit dan panjang. Sebuah jembatan mustaqim yang membentang di antara kelahiran dan kematian. Di kanan kirinya terdapat jurang-jurang yang menganga: ambisi yang berlebihan, kesombongan intelektual, kerakusan kekuasaan, ketakutan kehilangan status, hingga ilusi tentang diri sendiri. Banyak orang mengira mereka sedang berjalan menuju cahaya, padahal tanpa sadar hanya berputar-putar di dalam bayang-bayang egonya.

Di titik inilah pendidikan menemukan makna yang lebih dalam.

Ada fase ketika manusia belajar menjadi akademisi. Pada tahap ini ia mengumpulkan pengetahuan, menghafal teori, memahami metodologi, dan menekuni disiplin ilmu. Akademisi penting karena ia membangun fondasi. Namun fondasi bukanlah rumah itu sendiri.

Setelah itu datang fase intelektual. Di sini pengetahuan tidak lagi sekadar dikoleksi, melainkan dipertanyakan. Seorang intelektual tidak hanya mengetahui apa yang ada, tetapi juga mengapa sesuatu ada. Ia mulai menembus batas-batas disiplin, membaca sejarah kekuasaan, memahami dinamika masyarakat, dan menyadari bahwa ilmu selalu memiliki konsekuensi moral dan politik.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana.
Karena puncak ilmu bukanlah kecerdasan, melainkan kesadaran.
Puncak ilmu adalah spiritualitas.

Dalam tradisi hikmah Islam dikenal tiga tingkatan keyakinan. Pertama, ilmul yaqin—pengetahuan yang diperoleh melalui kabar dan pembelajaran. Kedua, ainul yaqin—pengetahuan yang lahir dari penyaksian langsung. Dan yang tertinggi adalah haqqul yaqin—ketika kebenaran tidak lagi sekadar diketahui atau dilihat, tetapi dialami dan menjadi bagian dari keberadaan diri.

Pada titik itulah manusia tidak lagi mengejar ilmu untuk mendapatkan kekuasaan. Ia mencari ilmu karena ingin mengenal Sang Sumber Ilmu.

Di antara mereka yang menempuh jalan panjang itu adalah Muhammad Saleh bin Umar as-Samarani, yang lebih dikenal sebagai Kyai Saleh Darat. Beliau hidup pada masa ketika Nusantara sedang berada di persimpangan sejarah. Kolonialisme Belanda masih mencengkeram bumi pertiwi, sementara benih-benih kemerdekaan mulai tumbuh dalam kesadaran rakyat.

Beliau hidup sezaman dengan Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari, dan Mbah Ahmad Dahlan. Mereka bukan sekadar tokoh agama dalam pengertian sempit. Mereka adalah penjaga cahaya di tengah zaman yang gelap. Mereka membangun peradaban bukan dengan senjata, melainkan dengan ilmu, keteladanan, dan kejernihan batin.

Mereka memahami bahwa penjajahan yang paling berbahaya bukan hanya penjajahan atas tanah, melainkan penjajahan atas kesadaran manusia.

Karena itu mereka mendidik umat agar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam berkeyakinan, dan merdeka dalam memaknai hidup.

Para kekasih Allah itu telah melewati berbagai jebakan yang terdapat di atas jembatan kehidupan. Mereka tidak berhenti pada ketenaran, tidak terikat oleh pujian, dan tidak silau oleh kedudukan. Mereka terus berjalan hingga menemukan keterhubungan yang lebih dalam dengan sumber segala cahaya.

Dalam bahasa para arif, mereka mencapai keadaan ketika hati menjadi cermin yang bening. Cahaya kebijaksanaan semesta memantul tanpa terhalang oleh kabut ego. Mereka menjalani tapabrata: laku sunyi yang mengikis keakuan, mengolah jiwa, dan menundukkan nafsu agar ruh dapat kembali mengenali asal-usulnya.

Pada titik itu, ilmu bukan lagi sekadar informasi.
Ilmu menjadi cahaya.
Dan cahaya menjadi jalan.

Maka ketika hari ini energi pemikiran dan keteladanan Kyai Saleh Darat kembali diperkenalkan kepada generasi baru, sesungguhnya yang sedang dihidupkan bukan hanya sejarah seorang ulama. Yang sedang dihidupkan adalah mata rantai kesadaran. Sebuah ingatan kolektif bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia tetap membutuhkan kompas batin agar tidak tersesat.

Terima kasih kepada Dr. Nur Ahmad dan juga sebagai ketua NU Belanda  yang telah membantu mengorbitkan kembali energi cahaya Kyai Saleh Darat ke ruang publik. Dalam setiap upaya memperkenalkan kembali warisan para wali dan ulama, terdapat ikhtiar untuk menyambungkan masa lalu dengan masa depan, menghubungkan akar dengan daun, dan mengalirkan kembali mata air hikmah ke tengah masyarakat yang dahaga makna.

Semoga perjalanan Mas Nur Ahmad tidak berhenti pada capaian akademik. Sebab gelar hanyalah gerbang pertama. Semoga bergerak menjadi intelektual yang berani berpikir merdeka, yang mampu membaca zaman dengan kejernihan nurani. Dan lebih jauh lagi, semoga sampai pada maqam yang paling tinggi: menjadi seorang pencari yang dicintai oleh Yang Dicari, seorang hamba yang mengenal Tuhannya melalui ilmu, amal, dan kebeningan hati.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkannya, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan itu berhasil mengubah dirinya menjadi cahaya bagi sesama.

Dan ketika perjalanan itu selesai, ketika seluruh jebakan jembatan kehidupan berhasil dilalui, mungkin yang tersisa hanyalah satu kesadaran yang hening:

bahwa segala ilmu berasal dari-Nya,
segala kebijaksanaan kembali kepada-Nya,
dan seluruh perjalanan panjang ini sesungguhnya hanyalah perjalanan pulang.

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di ridhoi-Nya, Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam Syurga-Ku"

Syafiih Kamil

Pengurus Lesbumi PCINU Belanda

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Ketika Ibn Hajar “Goes West”
Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Dosen UIN Sunan Kudus Raih Maheswara Utama BPIP
Kritik Fiqh Terhadap Kebijakan Penyembelihan dan Pembagian Dam di Luar Tanah Haram
Haji Bermanfaat: Upaya Mengonversi Dam Menjadi Instrumen Pengentasan Stunting dan Perbaikan Gizi Nasional

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.