Saya sudah agak lama menyimpan novel mahakarya Umberto Eco: *"The Name of The Rose"*, tapi saya baru membacanya dengan intens saat perjalanan jauh dan tinggal beberapa hari (sekitar dua minggu) bersama ibunya anak-anak, mengantar anak bungsu belajar musik di Boston-MA, Amerika.
Dari novel itu, saya jadi terkesan dengan salah satu cara bagaimana orang Barat mendidik/mendorong masyarakat, melalui para penulis/penceritanya, untuk mencintai dan membiasakan diri berfikir dan bertindak secara rasional-ilmiah.
Table of contents [Show]
Pernahkah Anda membaca awal cerita novel mahakarya Umberto Eco, *The Name of the Rose?*
Di sana, seorang biarawan bernama William of Baskerville berhasil menebak secara akurat nama, warna, hingga arah lari seekor kuda milik Kepala Biara yang hilang, padahal William belum pernah melihat kuda itu sebelumnya.
Bagi pembaca modern, kemampuan William ini memukau karena ia segera membongkar rahasianya: ia melihat ranting yang patah di ketinggian tertentu, goresan kuku di tanah, dan kotoran yang ditinggalkan.
William menggunakan metode Abduksi: sebuah bentuk penalaran *mencari penjelasan terbaik* berdasarkan tanda-tanda fisik di lapangan.
Namun, mari kita bayangkan jika cerita serupa ditulis oleh Pencerita Timur tradisional, misalnya dalam lanskap sastra pesantren atau hikayat nusantara. Tokoh utamanya, bisa seorang kiyai, resi, atau pendekar, kemungkinan besar tidak perlu menunduk melihat tanah atau mengukur patahan ranting.
Ia cukup memejamkan mata sejenak, lalu menunjuk ke satu arah mata angin dengan keyakinan penuh. Kuda itu pasti ada di sana.
Perbedaan cara bercerita ini bukan sekadar urusan gaya penulisan, melainkan cerminan dari dua cara pandang peradaban yang berbeda dalam memperlakukan pengetahuan: Rasional-Akademis khas Barat Modern dan Mistis-Intuitif khas Timur Tradisional.
Dua Jenis "Kesaktian"
Umberto Eco, yang adalah seorang profesor semiotika (ilmu tentang tanda) sekaligus professor dalam bidang abad pertengahan yang bereputasi, sengaja menitipkan metode *abduksi* (pada kesempatan lain saya ingin menulis salah satu metoda penalaran ilmiah yang kurang populer ini) abad ke-19 ke dalam otak karakter abad ke-14 miliknya.
Melalui William, Eco ingin merayakan otonomi pikiran manusia.
Di sini, "kesaktian" didefinisikan sebagai *ketaatan pada metodologi*.
Kelebihan utamanya adalah demokratisasi: siapa saja bisa meniru kesaktian William asal mau belajar, jeli melihat data empiris, dan melatih logikanya.
Sebaliknya, dalam narasi Timur, kemampuan menebak hal tersembunyi seperti itu dipandang sebagai *Ilmu Laduni, Kasyaf, atau Waskita*.
Pengetahuan ini tidak datang dari laboratorium atau buku teks, melainkan dianugerahkan langsung oleh Tuhan ke dalam hati manusia yang suci.
Sumber kesaktiannya bukan metodologi, melainkan kedekatan spiritual.
Dampaknya, pengetahuan ini bersifat eksklusif, personal.
Anda tidak bisa mendapatkan ilmu laduni hanya dengan mendaftar kuliah: ia membutuhkan laku spiritual yang berat seperti riyadhah atau tirakat.
Kenapa Kita Berbeda Jalan ?: Paling Tidak Seharusnya Saling Menghargai
Menariknya, peradaban Islam pada Era Keemasan sebenarnya pernah mengawinkan kedua "kesaktian" ini dengan mesra.
Tokoh seperti Ibnu Sina adalah dokter rasional sekaligus sufi.
Namun, trauma sejarah seperti pergeseran peta teologis dan trauma kolonisasi membuat kedua ilmu ini mengalami dikotomi akut di zaman modern.
Di Indonesia hari ini, sisa-sisa benturan dua paradigma ini masih sangat kental. Lembaga yang mewakili kubu rasional-akademis dan kubu mistis-intuitif sering kali masih saling curiga.
Bahkan, institusi pendidikan yang hari ini mencoba mengintegrasikan keduanya sering kali dicurigai dari dua arah sekaligus: dianggap "terlalu sekuler" oleh kubu tradisionalis, atau dianggap "tidak ilmiah" oleh kubu modernis.
Padahal, kedua jenis "kesaktian" ini memiliki pijakan yang sama-sama kokoh.
Saat ini, "Barat" mulai kelelahan dengan rasionalitas dingin yang hampa spiritualitas, sementara Timur perlahan sadar bahwa doa tanpa ikhtiar yang didukung oleh metodologi sains tidak akan melahirkan teknologi modern.
Harapan yang tidak boleh padam
Pada akhirnya, membaca tanda di atas tanah seperti William atau membaca isyarat langit seperti para ahli laduni adalah dua cara manusia meraba kebenaran.
Peradaban yang paripurna adalah peradaban yang mampu melahirkan manusia yang otaknya setajam Einstein, namun hatinya seteduh para kekasih Allah.
Kita merindukan hadirnya *"Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi"* baru.
Achmad Jazidie