SURABAYA - Puluhan aktivis dan pecinta sejarah Kota Surabaya berkumpul di Warung Kampung Kawatan, Kamis (12/2) malam. Mereka mengikuti bedah buku KH Abdul Fattah Yasin: Teladan Aktivis & Pejuang Bangsa karya Dr Wasid, dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel.
Hadir sebagai pembanding, Dr Ahmad Karomi (dosen Universitas Yudharta Pasuruan), Dr Yahya Muhammad (pegiat historiografi) dan Mukani (aktivis literasi).
Ketua panitia Wildan Ainur Aditya menjelaskan pemilihan kampung Kawatan sebagai lokasi bedah buku. "Di kampung inilah KH Fattah Yasin lahir lalu menggerakkan roda perlawanan ke Belanda hingga menjadi menteri selama 10 tahun," ujarnya.
Saat memaparkan materi, Dr Wasid menjelaskan Kiai Fattah pernah menjadi Menteri Urusan Sosial dan Menteri Penghubung Alim Ulama. "Itu sejak era pemerintahan Soekarno," ujarnya.
Kiai Fattah, lanjutnya, pernah menjadi inisiator perdirinya Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). "Saya pernah kroscek ke markasnya di Malang sana," imbuhnya.
Dia menambahkan, Kiai Fattah pernah menjadi Ketua Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu). "Periode pertama sebelum 1963, Pertanu fokus tidak hanya mengurusi pertanian, tapi juga pertanahan merespon pemberlakuan UU Agraria," imbuhnya.
Kiai Fattah juga diakui pernah menjadi anggota Hisbullah. Ini sebuah laskar yang dibentuk Masyumi menyongsong lndonesia merdeka. "Tidak heran jika Kiai Fattah terdepan membela Yayasan Khadijah Wonokromo saat hendak diserobot tanahnya oleh PKI," kenangnya.
Ketokohan Kiai Fattah diakui Dr Yahya Muhammad. "Gelar haji yang disandang saat itu sebagai bentuk pengakuan keilmuannya dalam lslam, termasuk kiprahnya saat menggerakkan kader NU di Surabaya untuk melawan Belanda," ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr Ahmad Karomi. Pria berkacamata ini menegaskan, sebagai murid Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Fattah diakui tokoh penting di Surabaya.
"Terutama dalam membela kaum petani di Surabaya saat itu," ujarnya. Ini karena Syaikhona Kholil, lanjutnya, menggerakkan kader tidak hanya di Surabaya. "Tapi di seluruh pulau Jawa dan Madura," imbuhnya.
Apresiasi tinggi diberikan Mukani dalam menulis tokoh. "Apa yang dilakukan Dr Wasid seperti yang dilakukan Jimmy Breslin tahun 1963," ujarnya. "Di saat orang banyak membahas penembakan Presiden Ameria John F Kenedy oleh Lee Harvey Oswald, tapi Breslin menulis Clifton Pollard di New York Tribune," imbuhnya.
Pollard adalah pria 42 tahun yang menggali kubur buat Presiden Kenedy. "Jadi yang ditulis Mas Wasid bukan tokoh-tokoh besar NU, tapi tokoh yang juga nyata aksinya meski tidak disorot kamera," pungkasnya.