Press ESC to close

Membaca Ulang Relasi Gender di Pesantren: Santri Perempuan di Tengah Dinamika Modernitas Islam

Pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua yang memiliki peran penting dalam membentuk identitas keislaman di Indonesia. Pesantren bukan hanya menjadi ruang penyalur ilmu tetapi juga menjadi tempat pembentukan karakter, nilai keagamaan, dan nilai sosial. Dalam sistem khasnya ia memadukan antara tradisi keilmuan dan kesalehan. Akan tetapi dari banyaknya khazanah masih juga da hal yang peru dibincangkan seperti, bagaimana relasi gender yang dibangun dan dipraktikkan di dunia pesantren, terkhusus berkaitan dengan peran santri perempuan?

Pertanyaan ini sering muncul ketika wacana kesetaraan gender semakin kuat di masyarakat Islam modern. Di era saat ini santri perempuan tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga menjadi penggerak intelektual, pendidik, dan pembaru wacana Islam. Pada momentum hari santri ini menuntut kita untuk mengkaji ulang tentang bagaimana pesantren memahami peran perempuan dalam ranah keilmuan dan sosial.

Pada sejarahnya pesantren tumbuh dengan budaya patriarki yang menempatkan kiai sebagai pusat kekuasaan keilmuan. Sedangkan Ibu Nyai dan santri perempuan ditempatkan di ranah domestik saja yang berfungsi sebagai pelengkap, pendamping, atau bahkan dalam istilah Jawa disebut dengan istilah konco wingking. Akan tetapiii, dibalik stigma itu banyak perempuan pesantren yang memegang peran penting, baik sebagai pengajar, penulis kitab dan penggerak sosial.

Seperti halnya Ibu Nya Hj. Badriyah Faiyum, Ibu Nyai Shinta Nuriyah Wahid, hingga genarasi ulama perempuan muda yang saat ini mengajar tafsir, fikih, dan hadis pada ruang akademik. Beliau-beliau membuktikan bahwa perempuan pesantren bisa melakukan yang mungkin sama dengan laki-laki di luar ranah domestik tanpa kehilangan akar tradisinya.

Pada konteks ini feminisme Islam hadir bukan sebagai gerakan tandingan teradap pesantren, namun sebagai pendekatan relektif untuk mengkaji ulang nilai-nilai keadilan (‘adālah) dan nilai-nilai kesalingan (al-musāwah) sebagaimana dengan konsep nilai keislaman. Tokoh-tokoh perempuan seperti  Amina Wadud dan Riffat Hasan menekankan bahwa kesetaraan gender merupakan merupakan bagian dari misi tauhid, yaitu pengakuan bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan setara di hadapan Allah.

Santri perempuan hidup di antara dua dunia yaitu dunia tradisi dan dunia modernitas. Pada satu sisi mereka mewarisi nilai adab ta’dzīm, dan ketaatan khas pesantren, disisi lain mereka dihadapkan pada dunia modern yang menekankan kebebasan berpikir, kemandiriain, dan partisipasi sosial. Ketegangan ini menuntut pendekatan baru daam memahami teks agama dan peran sosal perempuan.

Feminisme Islam memberikan kerangka untuk menafsirkan kembali teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan yang adil. Dalam konteks pesantren, adanya pendakatan ini akan membuka dialog dan kesadaran kritis sehingga tidak membatasi ruang gerak perempuan. Karena pada nyatanya banyak yang membatasi ruang gerak perempuan yang tidak bersumber dari tuntunan Islam, akan tetapi dari konstruksi sosial yang sudah mendarah daging.

Kini, sudah banyak pesantren yang mulai membuka diri terhadap gagasan kesetaraan. Dengan bukti banyaknya kelas tafsir perempuan, dan kajian kitab kuning perspektif gender, hingga lahirnya jaringan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Islam) yang memperjuangakan penafsiran agama yang adil gender. Hal ini membuktikan bahwa pesantren bisa bertransformasi dari nilai tradisi tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Pada era digital saat ini menghadirkan tantangan baru bagi santri perempuan. Tantangan ini muncul ketika tradisi modern mulai mengaburkan nilaii-nilai yang ada di pesantren. Akan tetapi, pada saat ini dunia digital juga memiliki peran yaitu menjadi ruang dakwah dan ekspresi baru untuk menyampaikan gagasan Islam yang terbuka dan adil.

Pada saat ini kitia suda menyaksikan banyak santri perempuan yang menulis melalui media daring, menjadi pendakwah di media sosial, dan ikut andiil dalam riset hukum-hukum Islam. Keberadaan mereka sudah tidak terbatas pada lingkup asrama, namun sudah meluas ke lingkup publik. Hal ini mencerminkan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan perempuan yang alim dalam pendidikan keagamaan saja tetapi juga tanguh dengan kehidupan luar.

Membaca ulang relasi gender di pesantren bukan berarti kita merombak tradisi atau bahkan menolak otortas Kyai. Justru hal ini adalah usaha untuk mengembalikan identitas pesantren yaitu tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak yang berkeadilan termasuk kepada kaum laki-laki dan perempuan. Nilai ta’dzīm atau hormat dan ikhlas bukan hanya diartkan sebagai pasrahnya perempuan kepada laki-laki melainkan sebagai bentuk penghormatan yang timbal balik pada relasi kemanusiaan.

Pesantren yang terbuka adalah pesantren yang memberikan ruang untuk berpendapat, memberi kesempatan untuk memimpin kepada santri perempuan. Dengan demikian kesetraan akan menjadi bagian dari upaya untuk menegakkan keadilan sesuai dengan syariat Islam.

Dari tulisan diatas dapat kita fahami bahwa santri perempuan hari ini adalah wajah baru dari tradisi pesantren yang hidup dan dinamis. Para santri perempuan bukan hanya pewaris masa lalu, tetapi juga menjadi penafsiran di masa depan. Di tangan mereka, nilai-nilai klasik pesantren seperti ikhlas, tawadhu’, dan barakah menemukan makna baru dalam konteks modernitas.

Dengan membaca ulang relasi gender, pesantren dapat terus menjadi pelita peradaban yang bukan hanya mencetak pribadi saleh, tetapi juga mencerdaskan dan memanusiakan. Karena sejatinya, Islam yang diajarkan di pesantren adalah Islam yang adil, setara, dan rahmatan lil ‘alamin untuk laki-laki dan perempuan, untuk semua insan.

Penulis: Afiya Syukrotin Maulidya

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.