JOMBANG—Sedikitnya seribu warga Dusun Mojosongo Desa Balongbesuk Kecamatan Diwek memadati area makam umum dusun, Senin (16/6) malam. Ribuan warga itu mengikuti acara Sedekah Dusun sekaligus Peringatan 1 Muharram 1449 Hijriyah (1 Suro 1961).
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan agenda khatmil Qur'an. Puncak acara berlangsung setelah shalat Isya, diisi dengan tahlil kubra dan istighasah bersama.
Turut hadir dalam acara tersebut jajaran Polsek Diwek, Koramil, Babinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa, serta tokoh masyarakat dan ketua RT/RW setempat
Sebagai rasa syukur warga, panitia menyiapkan lima gunungan yang terdiri atas jajanan anak-anak, jajanan tradisional, hingga sayur-mayur hasil bumi. Acara diakhiri dengan tradisi makan tumpeng bersama.
Kepala Desa Balongbesuk, Muhammad Saifur, dalam sambutannya mengapresiasi soliditas dan kerukunan warga.
"Para pejuang yang dimakamkan di Dusun Mojosongo ini insya Allah bangga melihat kita semua rukun di sini," tegas Saifur.
Mudin Desa Balongbesuk, Dodik Susanto, juga mengingatkan tentang hakikat kehidupan dan kematian, sesuai dengan lokasi Sedekah Dusun kali ini. "Ngilingi menawi panjenengan kalih kula badhe pejah" (Mengingat bahwa Anda dan saya akan mati), pesannya di hadapan ribuan jamaah.
Tingginya antusiasme warga terlihat sejak galang dana kegiatan. Berdasarkan data panitia, hampir seratus donatur menyumbangkan dananya. Mulai dari tokoh masyarakat, perangkat desa, pelaku usaha lokal, hingga berbagai institusi turut menyisihkan rejekinya untuk menyukseskan acara ini.
Ketua Panitia, Abdul Rochman, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas dukungan seluruh elemen masyarakat. "Mugi sedekah panjenengan saged ketampi" (Semoga sedekah Anda bisa diterima oleh Allah), ucapnya mendoakan para donatur.
Sebagai pamungkas, acara ini juga dimeriahkan oleh pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Puryono yang membawakan lakon Dewaruci. Ini buah lakon filosofis tentang pencarian jati diri.
Pagelaran wayang berlangsung hingga Selasa dini hari jelang Subuh. Delama pagelaran wayang kulit, penonton tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka terhibur dengan wayang kulit sebagai tradisi lokal yang masih dipelihara. (har)