Press ESC to close

Pola Penyampaian Materi dalam Maulid Nabi

 
Pilihan tema ceramah maulid Nabi bisa menggunakan struktur penyampaian;
 
1. Hikayah
2. Fadhilah
3. Hujjah
 
1. Hikayah/Riwayah
 
Awali dengan hikayat kemuliaan akhlaq Rasulullah, maupun hikayat umat terdahulu yang disampaikan oleh Al-Qur'an maupun yang diceritakan oleh Baginda Nabi kepada para sahabat. Sesuaikan dengan audiens. Misalnya, di depan audiens dari kalangan kaya, disampaikan riwayat para sahabat kaya yang memiliki sifat itsar (altruisme), judd (murah hati), dan sakha' (dermawan).
 
Di depan masyarakat awam, jelaskan hikayat pergaulan Rasulullah bersama kaum jelata dan welas asihnya beliau kepada mereka. Juga beberapa amalan yang dilakukan oleh kaum awam agar pahalanya bisa maksimal. Biasanya ada hadits yang berisi dialog beliau dengan sahabat yang awam, miskin atau memiliki keterbatasan. Pasti Rasulullah memberi solusi di akhir dialog.
 
Di depan para guru, jelaskan karakteristik Rasulullah dan metode beliau mendidik para sahabat, baik yang lansia maupun yang masih remaja dan anak-anak.
 
Di depan hadirin para pelajar, jelaskan riwayat para sahabat yang menjadi murid Rasulullah dan kegigihannya dalam belajar.
 
Di depan khalayak kaum pria, kisahkan pribadi Rasulullah sebagai kepala keluarga, juga sisipkan larangan melakukan KDRT, misalnya. Baik kekerasan psikis, ekonomi, seksual, dll. Agar para suami paham tanggungjawabnya. Juga kemuliaan suami yang bertanggung jawab atas keluarganya.
 
Di hadapan para pemimpin, kisahnya leadership Rasulullah yang bertumpu pada memanusiakan manusia, memberi tanggungjawab pada potensi sahabatnya, dan relasi harmonis antara beliau dan para sahabat, juga komunikasi yang intens.
 
Di hadapan ibu-ibu, bisa menguraikan cara Rasulullah memuliakan para shahabiyah, mengangkat derajat kaum hawa, juga bagaimana beliau memberi petunjuk kepada parempuan, baik sebagai manusia, ibu, maupun istri.
 
Penjelasan bisa mengambil 1-2 kisah, disertai hikmah di dalamnya yang disampaikan menggunakan 1-3 poin agar mudah dipahami audiens. Sebelum lanjut materi tahap selanjutnya, berikan pertanyaan yang jawabannya dipandu oleh muballigh-nya. Misalnya, "Baik...tadi ada tiga poin kisah hikmah yang saya sampaikan. Yang pertama, apa tadi...? Kedua, apa? Ayo, masak sudah lupa. Ketiga...? Bagus. Ayo diulangi lagi, biar pulang dari pengajian ini membawa ilmu."
 
Bisa juga mubaligh menyampaikan makna dibalik kalimat-kalimat dalam Al-Barzanji maupun Ad-Diba'i yang biasanya dibaca masyarakat. Mereka hafal maddah-nya, tapi tidak tahu makna yang mereka baca. Misalnya saat mahallul qiyam, kalimat anta iksiru wa ghali, anta mishbahus shuduri. Kalau diuraikan, ini bisa menarik dan mendalam.
 
2. Fadhilah.
 
Langkah selanjutnya menjelaskan fadhilah atas hikayat yang disampaikan sebelumnya, terkait obyek yang dituju. Kalau di depan para guru dan santri, maka dijelaskan fadhilah menjadi para guru/santri berdasarkan riwayat dan ulasan dari kitab para salaf. Jika di depan para ibu lansia, diuraikan fadhilah-fadhilah bacaan dzikir yang dicantolkan dengan hikayat dan riwayat Rasulullah dan para sahabat. Di depan para suami-istri, diuraikan keutamaan dalam berumah tangga dan relasi keduanya yang bisa dijadikan sebagai sarana Baity Jannaty.
 
3. Hujjah
 
Beri landasan dari Al-Qur'an maupun hadits berkaitan dengan yang telah disampaikan. Misalnya QS. Al-Ahzab 21; QS al-Ahzab 56; QS. At-taubah 128;  dst. Kalau perlu dijelaskan uraian Fadhilah membaca ayat tersebut sekian kali berdasarkan riwayat dan hikayat pengamalnya, yang biasanya diijazahkan oleh seorang guru/ulama kepada santrinya atau masyarakat umum.
 
Saya kira pola struktur penyampaian materi di atas bisa dibolik-balik. Bisa hujjah dulu, lanjut hikayah/riwayah, diakhiri dengan fadhilah. Bisa disesuaikan dengan audiens yang hadir.
 
**
Biar tidak ada kesan jika mubaligh NU ceramahnya nglantur, kurang bermutu jika dibandingkan dengan muballigh "sebelah" dan tidak terkesan materinya itu-itu melulu. []
 
Wallahu A'lam Bisshawab.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.