Press ESC to close

Santri, Penyuluh Agama Islam dan Diplomasi Perdamaian

Pada peringatan Hari Santri Nasional tahun 2025 ini, tentu sebagai santri kita perlu merefleksikan diri terkait dengan apa peran dan dampak yang sudah kita lakukan di tengah-tengah masyarakat. Mengingat santri bukan hanya kata sifat yang dilekatkan kepada seseorang yang pernah nyantri di Pondok Pesantren. Lebih dari itu, Santri adalah kata kerja yang harus menjadi nafas perjuangan untuk menegakkan yang haq dan menumpas hal yang bathil di masyarakat.  

Santri menjadi elemen penting dalam mendakwah Islam di masyarakat. Dalam lintasan sejarah Nusantara, Santri telah menjadi motor penggerak nilai-nilai keislaman dan keindonesian. Santri pada gilirannya dicirikan berwatak moderat, cinta tanah air, dan promotor perdamaian. Dalam konteks ini, Santri dan Penyuluh Agama Islam pada dasarnya memiliki keterkaitan identitas. Santri identik dengan identitas sosial keagamaan, sedangkan Penyuluh Agama Islam adalah identitas profesi yang pada praktiknya sama dengan apa yang diperankan santri di tengah-tengah masyarakat.

Secara etimologis, santri berasal dari kata “shastri” yang diserap dari bahasa Sanskerta, yang bermakna “melek huruf”, “mampu membaca”, atau orang yang mempelajari kitab suci dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo. Namun menurut Nurcholis Madjid dalam buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999) menuliskan bahwa kata “santri” bisa juga dikatakan berasal dari bahasa Jawa, yakni “cantrik” yang bermakna "orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya".

Sedangkan penulis menemukan istilah santri dalam cerita tutur yang dikemukakan para guru Madrasah ketika mondok di Pondok Pesantren Al-Falah Silo, Jember, Jawa Timur. Diceritakan bahwa kata Santri merupakan sebuah akronim yang memiliki makna filosofis mendalam, sesuai dengan akar katanya, dari Shin, hingga kata Ya’. Pertama, Saatirun anil uyub, bahwa santri itu adalah orang-orang yang suka menutupi aib dirinya dan lingkungannya. Kedua, Naaibun anis syuyukh atau masyayikh, yaitu sosok yang akan menjadi pengganti atau penerus para ulama. Mengingat kalangan santri sangat lekat dengan kitab kuning (turats), sebagai basis paradigmatik keilmuan Islam. Ketiga, Taarikun ‘anil ma’asyi, sosok yang senantiasa berusaha meninggalkan perbuatan yang menjurus kepada kemaksiatan. Keempat, Rhoibun anil khoir, santri menjadi karakter yang senang dalam berbuat kebaikan di masyarakat. Kelima, Yasirun fi umuriddunya waddin, santri pada dasarnya harus memiliki prinsip hidup yaitu ringan tangan dalam urusan dunia sebagai bekal untuk akhirat.          

Jika berdasarkan makna filosofisnya ini, santri tentu memiliki beban moral yang besar sebagai katalisator di masyarakat. Santri ke depan tidak hanya menjadi identitas kultural, tetapi harus menjadi identitas sosial yang melekat dalam setiap relung nadi kehidupan masyarakat. Santri dalam konteks ini harus menjadi inisiator dan mediator perdamaian ketika terjadi potensi-potensi segregasi sosial berbasis agama di masyarakat. Karena santri bukan hanya yang sedang nyantri (belajar) di Pesantren, tetapi lebih dari itu mereka yang juga sudah terjun ke masyarakat, mengingat sejatinya santri adalah identitas sosial yang terus melekat.

Sedangkan sebagai sebuah profesi, Penyuluh Agama Islam memiliki peran dan kinerja yang berkaitan erat dengan sosok santri yang memiliki tugas profetik kultural. Penyuluh Agama Islam memiliki tugas untuk mendakwahkan ajaran Islam, salah satunya melalui Majelis Taklim. Tidak hanya di situ, peran penyuluh agama Islam tentu bisa menyasar ke area yang lebih luas, yaitu melalui media sosial. Dewasa ini semua orang hampir seluruhnya memiliki platform media sosial, mulai dari WA, Facebook, Instagram dan TikTok. Media sosial ini tentu tidak hanya menjadi wadah hiburan semata, namun juga harus diisi dengan narasi dakwah Islam dan narasi damai terkait dengan pluralisme dan multikulturalisme.   

Ruang Diplomasi Perdamaian

Pada umumnya, diplomasi biasanya dipahami dalam konteks hubungan antar negara. Namun, diplomasi perdamaian juga bisa hadir di ruang-ruang lokal melalui aksi nyata yang dilakukan santri sekaligus para penyuluh Agama Islam. Ketika santri dan penyuluh menyuarakan narasi moderasi beragama, menolak kekerasan, dan mengedepankan dialog melalui ruang-ruang publik, sejatinya mereka sedang melakukan diplomasi perdamaian. Mengingat Indonesia merupakan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan hal ini Indonesia memiliki peluang besar untuk menghadirkan wajah Islam yang damai di panggung global.

Melalui pertemuan Religion Twenty (R20) di Bali, Nahdlatul Ulama misalnya telah memainkan peran penting untuk mereduksi segala bentuk ketimpangan sosial di dunia global, akibat genosida, peperangan dan kesenjangan ekonomi di kancah global. Diplomasi perdamaian yang diinisiasi NU melalui jembatan dialog di atas tentu harus terus digelorakan oleh para santri yang berprofesi menjadi Penyuluh Agama Islam, dengan cara senantiasa melakukan dialog antar agama di tingkat lokal untuk mengurangi prasangka, antar umat beragama, etnis, suku dan sebagainya.

Selain itu, para santri perlu terus meningkatkan kerjasama internasional pesantren dalam program pertukaran santri dan temu ilmiah untuk memperkenalkan Islam moderat Indonesia. Hal ini sudah dilakukan oleh komunitas Santri Mendunia dengan beberapa programnya, salah satunya kegiatan Konferensi Internasional ketiga di tiga negara, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Penguatan narasi digital tentang Islam ramah melalui konten dakwah yang menjangkau generasi muda perlu terus disemarakkan. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh para santri, baik dari individu maupun komunitas, seperti yang dilakukan oleh komunitas Santri Gus Dur di Yogyakarta yang memiliki visi terwujudnya masyarakat santri di Jogja yang humanis, berdasarkan nilai, pemikiran dan keteladanan Gus Dur.  

Ruang diplomasi perdamaian harus semakin banyak diisi oleh para santri. Jaringan diplomasi masyarakat sipil harus diinisiasi dengan baik yang menjadikan santri dan para penyuluh Agama Islam sebagai representasi wajah ramah Islam Indonesia. Itulah sejatinya hakikat santri dan penyuluh Agama Islam yang memiliki tugas peradaban. Akhirnya, Selamat Hari Santri tahun 2025, Santri untuk perdamaian dunia. []

Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lembeyan Magetan

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.