SYAWAL- menjadi momentum yang istimewa bagi para santri. Sejak tanggal 13 hingga 20 Syawal. Pesantren- pesantren di berbagai penjuru Nusantara kembali dipenuhi wajah- wajah penuh harap. Para santri, baik yang baru maupun yang lama, memulai babak baru dalam KBM pondok pesantren.
Penulis ingat, dalam setiap ajaran baru di PP. KHAS Kempek, KH. Muhammad Mustofa Aqil Siroj, bercerita disaat salah satu tamu bertanya mengenai orientasi dari lembaga yang beliau asuh, jawabannya sangat lugas: "Agar para santri menjadi orang yang benar." Jawaban yang tampak bersahaja, karena realitas zaman seringkali mempertontonkan anomali yang getir; dunia kita dipenuhi sosok-sosok dengan deretan gelar akademik yang mentereng—sarjana, doktor, hingga profesor—namun terperosok dalam kubangan korupsi dan kepalsuan, meminjam bahasa JS. Khairin yakni sarjana kertas.
Motivasi yang melatari kembalinya para santri ke haribaan pesantren memang beragam. Sebagian datang dengan hasrat untuk merajut bekal yang memang dari keluarga pesantren, ada juga di paksa orang tua, anaknyq nakal, terlepas dari niat yang diemban para santri. Bahkan seringkali, niat yang terpatri di awal perjalanan masih samar dan bercampur aduk. Akan tetapi allah akan merubah niatnya
«طلبنا العلم لغير الله، فأبى أن يكون إلا لله».
Seiring berjalannya waktu, niat yang keruh akan mengalami sublimasi. Selama santri tekun menata dan memperbaiki orientasinya, niat tersebut akan mengerucut menjadi kristal keikhlasan yang murni. Di Pondok Pesantren Lirboyo, menjaga niat ini mewujud dalam lantunan doa sebelum proses belajar mengajar dimula:
نَوَيْتُ التَّعَلَّمَ لنيل رِضَاالله. ض وَإِزَالَةِ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ
وَلاحْيَاءِ الدين وَلِشَّكْرِ النَّعْمَةِ. بالنية الصَّادِقَةِ مَعَ التَّوَكَّل
Aku berniat belajar demi meraih ridha Allah, menghilangkan kebodohan dari diriku dan orang lain, menghidupkan agama, serta mensyukuri nikmat ilmu dengan niat yang tulus dan bertawakal kepada-Nya.
Kesuksesan dalam meniti jalan ilmu juga sangat bergantung pada harmoni tiga pilar utama. KH. M. Anwar Mansur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, senantiasa menasihati para tamu yang menghantarkan putra putrinya.
“Mempeng atau kesungguhan yang sinergi antara murid, guru, dan orang tua."Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan ekosistem pendidikan yang tak terpisahkan. Goyahnya satu pilar akan mengakibatkan ketimpangan pada seluruh bangunan pendidikan.Bagi seorang santri, mempeng bermakna mencurahkan seluruh fokus pada kitab dan pengajian, menanggalkan segala distraksi yang berpotensi membelokkan arah perhatian dari ilmu. Bagi guru, kesungguhan ini terefleksi dalam dedikasi saat mengajar. Persiapan materi, metode, dan strategi penyampaian yang sesuai kapasitas santri adalah kunci keberhasilan transfer pengetahuan. Di tangan guru yang penuh persiapan, materi yang paling rumit sekalipun akan terasa renyah dan mudah dicerna.
Sementara itu, orang tua memegang peran sentral dari kejauhan. Dukungan mereka melampaui sekadar penyediaan zad (bekal materi) dan pemenuhan kebutuhan harian. Kekuatan sejati orang tua terletak pada barisan doa-doa yang dilangitkan tanpa henti. Doa terbaik dari orang tua adalah kunci pembuka pintu langit, menjadi wasilah turunnya keberkahan yang membuat ilmu sang anak menjadi manfaat.
Penulis: Ahmad Royhan S.FU. Santri PP. KHAS Kempek, PP. Lirboyo, dan Mahad Aly Lirboyo Kediri