JAKARTA - Nama lengkapnya Babak Kurnia. Perempuan ini adalah guru pendidikan agama Islam (PAl) di SDN 014 Sokoi Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.
Setiap hari, dia harus menyeberangi lautan untuk sampai di tempat tugasnya. "Sampai saya tidak jarak tempuhnya setiap hari," ujarnya.
Guru yang masih berstatus honorer ini tidak pantang menyerah dalam melaksanakan tugas. "Karena menjadi guru adalah impian saya," imbuhnya.
Senyum renyah dan keceriaan murid di sekolah diakui menjadi penyemangat dalam bertugas. "Mereka harus cerdas, meski wilayah geografis kurang mendukung," tambahnya.
Bagi perempuan kelahiran 7 Maret 1993 ini, keadaan alam justru dijadikan tantangan bertugas. "Yang jadi kendala sebenarnya masalah transportasi yang masih sulit," ucapnya.
Semangat itu akan bertambah saat di sekolah melihat para murid yang menanti kedatangannya. "Merekalah bensin semangat saya," imbuhnya.
Dirinya juga bersyukur memiliki kepala sekolah yang sangat bijak. "Beliau memahami saya sebagai guru yang berasal dari luar pulau, naik pompong laut selama 25 menit," imbuhnya.
Rekan-rekan kerja sesama guru juga saling mendukung. "Mereka baik dan perhatian kepada saya dalam bertugas, itu sudah jadi anugerah luar biasa buat saya," imbuhnya.
Namanya kemudian dinobatkan sebagai guru dedikatif dengan pengabdian di wilayah tantangan geografis. "Memang juara ketiga, tapi saya tidak menyangka diberi apresiasi oleh pemerintah," ujarnya bangga.
Alumni STAI Ibnu Sina Batam ini berterima kasih kepada Kementerian Agama Rl yang sudah memberikan apresiasi kepada pengabdiannya selama ini. "Merasa senang dan terharu karena wilayah mengabdi saya mendapat perhatian," ujarnya.
Apalagi diakui yang menyerahkan langsung Menteri Agama. "Dan sertifikat penghargaannya juga ditandatangani Pak Menteri Agama, ini luar biasa sekali buat saya," katanya bangga.
Ke depan dia berharap bisa diangkat sebagai PPPK. "Agar saya bisa mengabdi sepenuhnya di sekolah saya sekarang dan memilih berdomisili di tempat saya mengajar," katanya serius.
Ini dilakukan agar dirinya fokus dalam mencerdaskan anak bangsa. "Sehingga tidak ada lagi alasan saya untuk tidak hadir ke sekolah dengan alasan sulitnya transportasi menyebrangi lautan dan kondisi-kondisi cuaca lainnya," pungkasnya. (muk)