Dalam literatur hadis, terdapat sebuah riwayat yang kuat maknanya dan sering luput dari perhatian. Riwayat ini membuka pemahaman penting tentang doa, keikhlasan, dan batasan dalam praktik ibadah. Hadis tersebut diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, yang menceritakan sebuah peristiwa sederhana tetapi berdampak besar dalam pandangan syariat.
Teks hadis tersebut sebagai berikut:
عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى الصَّلاَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ يُصَلِّي، فَقَالَ حِينَ انْتَهَى إِلَى الصَّفِّ: اللَّهُمَّ آتِنِي أَفْضَلَ مَا تُؤْتِي عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ الصَّلاَةَ قَالَ: مَنِ الْمُتَكَلِّمُ آنِفًا؟ قَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: إِذًا يُعْقَرُ جَوَادُكَ وَتُسْتَشْهَدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Artinya: Dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seorang laki-laki datang untuk mengikuti shalat, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat. Ketika ia sampai di barisan shaf, ia berdoa: ‘Ya Allah, berilah aku yang terbaik dari apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.’ Setelah Rasulullah menyelesaikan shalat, beliau bertanya: ‘Siapa yang tadi berbicara?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, kudamu akan disembelih dan engkau akan mati syahid di jalan Allah.’”
Riwayat ini tercatat dalam karya para ulama hadis seperti an-Nasa’i dan Ibnu as-Sunni, serta disebutkan oleh para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar. Posisi hadis ini tidak hanya sebagai kisah, tetapi juga sebagai dasar refleksi dalam memahami fleksibilitas doa dalam ibadah.
Peristiwa ini dimulai dari situasi yang sangat biasa. Seorang sahabat datang ketika Nabi Muhammad sedang memimpin shalat berjamaah. Ia tidak sempat mengikuti dari awal. Ia langsung menuju barisan shaf agar bisa segera bergabung. Dalam kondisi itu, ia tidak hanya diam. Ia mengucapkan doa singkat yang langsung tertuju kepada Allah.
Doa tersebut tidak panjang. Tidak menggunakan redaksi yang kompleks. Namun isinya sangat luas. Ia tidak meminta hal duniawi secara spesifik. Ia langsung meminta kualitas terbaik yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Ini menunjukkan kedalaman pemahaman spiritual yang tidak bergantung pada panjangnya lafaz.
Hal yang menarik adalah posisi doa tersebut. Doa itu diucapkan saat ia baru sampai di shaf, sebelum ia sepenuhnya masuk dalam rangkaian gerakan shalat. Ini adalah momen transisi. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada larangan untuk berdoa, selama tidak mengganggu jalannya ibadah dan tidak merusak kekhusyukan jamaah.
Setelah shalat selesai, Nabi tidak mengabaikan kejadian itu. Beliau bertanya secara terbuka kepada para sahabat. Ini menunjukkan bahwa beliau memperhatikan detail dalam praktik ibadah umatnya. Ketika laki-laki itu mengakui perbuatannya, Nabi tidak menegur. Tidak ada larangan. Tidak ada koreksi.
Sebaliknya, Nabi memberikan kabar yang sangat tinggi nilainya. Beliau menyatakan bahwa laki-laki tersebut akan mati syahid di jalan Allah. Dalam tradisi Islam, syahid adalah puncak kemuliaan bagi seorang mukmin. Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bentuk penerimaan tertinggi dari Allah terhadap amal seseorang.
Dari sini muncul satu prinsip penting. Tidak semua amalan yang tidak memiliki contoh eksplisit dari Nabi otomatis dianggap sebagai bid’ah tercela. Dalam kasus ini, doa tersebut tidak diajarkan secara spesifik. Namun karena tidak bertentangan dengan prinsip syariat, maka ia tidak ditolak.
Prinsip ini harus dipahami secara hati-hati. Islam tetap memiliki batas yang jelas dalam ibadah. Tata cara pokok tidak boleh diubah. Namun dalam ruang seperti doa, terdapat kelonggaran. Selama maknanya baik, tidak mengandung penyimpangan, dan tidak mengganggu struktur ibadah, maka ia dapat diterima.
Kisah ini juga menegaskan bahwa inti ibadah bukan hanya pada bentuk lahiriah. Yang lebih utama adalah kejujuran hati dan kualitas niat. Doa yang singkat, jika diucapkan dengan penuh kesadaran dan ketulusan, dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan bacaan panjang tanpa penghayatan.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, pelajaran ini sangat relevan. Banyak orang merasa ragu untuk berdoa di luar teks yang sudah dikenal. Padahal, Islam memberi ruang luas untuk berbicara langsung kepada Allah dengan bahasa yang dipahami, selama tetap menjaga adab.
Akhirnya, kisah ini mengajarkan bahwa momen kecil dalam ibadah tidak boleh diremehkan. Berdiri di shaf bukan sekadar posisi fisik. Itu adalah titik awal perjumpaan dengan Allah. Dalam momen itu, satu doa yang tulus dapat membuka jalan menuju kemuliaan yang besar, bahkan hingga derajat syahid di sisi-Nya.
Penulis: Saini (Dosen Institut KH Yazid Karimullah Jember)