Press ESC to close

Duka Bersama dan Ibroh Ekologis: Belajar dari Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara

Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Dalam beberapa hari terakhir, hujan ekstrem mengguyur kawasan tersebut tanpa jeda, menyebabkan sungai meluap, tanah longsor, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Namun para pengamat lingkungan mengingatkan bahwa hujan deras bukanlah satu-satunya penyebab bencana. Ada persoalan ekologis yang sudah bertahun-tahun kita abaikan, dan kini menampakkan akibatnya.

Sejumlah lembaga lingkungan mencatat bahwa sebagian wilayah terdampak berada di kawasan yang dulunya memiliki hutan lebat—penyangga air alami yang menjaga kestabilan tanah dan aliran sungai. Namun deforestasi, pembalakan liar, dan konversi lahan untuk perkebunan serta kepentingan industri membuat bentang alam semakin rapuh. Lereng yang dulu kokoh kini menjadi rawan; sungai yang semula dalam berubah dangkal akibat sedimentasi; dan hulu yang seharusnya dipenuhi vegetasi berubah menjadi area terbuka tanpa penahan air. Ketika curah hujan tinggi datang, banjir bandang dan longsor menjadi tak terhindarkan.

Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan tentang bahaya kerusakan ekologis. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf 7:56:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”

Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan prinsip dasar etika lingkungan dalam Islam. Bumi adalah titipan, bukan milik mutlak manusia. Maka setiap bentuk perusakan—penggundulan hutan, pencemaran sungai, atau eksploitasi berlebihan—adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

Bencana yang terjadi ini juga relevan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rūm 30:41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…”

Dalam perspektif ulama, ayat ini menegaskan bahwa krisis ekologis sering kali bukan semata fenomena alam, tetapi konsekuensi dari kebijakan, pola konsumsi, dan praktik manusia yang tidak menjaga keseimbangan ciptaan. Karenanya, bencana ini hendaknya menjadi ibrah—pelajaran kolektif untuk kembali menata hubungan kita dengan lingkungan.

Peran Pesantren dan Gerakan Eco-Santri

Di tengah situasi ini, pesantren memiliki peran strategis. Pesantren selama berabad-abad hadir sebagai pusat pendidikan moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ekologi, pesantren juga dapat menjadi motor perubahan. Banyak kiai dan penggiat lingkungan menekankan pentingnya fiqh al-bi’ah (fiqh lingkungan) sebagai dasar penguatan kesadaran ekologis di lingkungan pesantren.

Integrasi nilai fiqh lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana namun berdampak besar: membiasakan pengelolaan sampah yang baik, mengurangi pembakaran sampah, memperkuat budaya menanam dan merawat pohon, serta menyediakan ruang diskusi mengenai isu lingkungan. Gerakan Eco-Santri bukan sekadar tren, tetapi kontribusi nyata pesantren untuk masa depan bumi.

Islam memandang air sebagai amanah penting. Dalam QS. Al-Anbiya’ 21:30, Allah berfirman:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”

Artinya, menjaga sumber air—sungai, sumur, laut, dan mata air pegunungan—adalah bentuk pemeliharaan kehidupan itu sendiri. Penyempitan sungai, limbah industri, dan penebangan hutan di daerah hulu telah terbukti memperparah risiko banjir. Maka menjaga air sama halnya menjaga garis kehidupan yang menghidupi manusia dan alam.

Allah juga menegaskan prinsip keseimbangan kosmik dalam QS. Ar-Rahman 55:7–8:

“Dan Dia meletakkan keseimbangan, agar kamu tidak merusak keseimbangan itu.”

Ekologi adalah sistem mīzān—tatanan seimbang—yang tidak boleh dirusak. Mengabaikan keseimbangan itu berarti merusak hukum alam (sunnatullah) yang Allah tetapkan.

Doa dan Harapan

Semoga Allah mengampuni kelalaian kita, menguatkan saudara-saudara kita yang terdampak bencana, dan menjadikan musibah ini sebagai pengingat untuk memperbaiki perilaku ekologis kita sebagai hamba-Nya.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Aamiin. []

Intan Diana Fitriyati

Pengasuh PP. Al Masyhad Manbaul Falah Walisampang Pekalongan

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.