Beberapa waktu terakhir, media sosial kembali diramaikan dengan munculnya berita mengenai habib “palsu”. Topik ini dengan cepat menyulap ruang digital dari grup WhatsApp keluarga yang biasanya hanya berisi ucapan selamat pagi, sampai grup pertemanan yang selalu siap memanas begitu ada isu baru. Tik-Tok yang biasanya dipenuhi konten joget, skandal seleb, dan potongan-potongan drama China, dengan cepat berubah menjadi ruang investigasi publik.
Menariknya, setiap kali ada seseorang yang mengaku dirinya sebagai habib, respon masyarakat selalu sama yaitu langsung muncul barisan “detektif syariah” yang bermodalkan rasa ingin tahu, koneksi internet, dan sedikit kemampuan stalking. Dengan modal tersebut, riwayat hidup sang pelaku dapat ditelusuri dari berbagai sudut, silsilah keluarga dicari hingga ke nenek moyangnya.
Semua proses itu dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat yang sebagian besar hanya bermodalkan ponsel dan waktu luang. Namun hasilnya sering kali mengejutkan, bahkan tak jarang lebih rinci dibanding investigasi resmi. Kejadian ini menunjukkan bahwa ketika sebuah berita viral, netizen bisa sangat kompak dan bergerak cepat, seolah-olah seluruh Indonesia berubah menjadi tim riset besar yang bekerja tanpa rapat, tanpa struktur, namun entah bagaimana tetap menghasilkan laporan yang cukup lengkap. Kejadian ini bukan sekedar orang yang ngaku-ngaku, lalu ketahuan berbohong. Lebih dari itu, dia memasuki ranah paling sensitif dalam masyarakat Muslim yaitu kehormatan terhadap keturunan Nabi Muhammad Saw.
Fakta dan Fenomena
Berdasarkan beberapa cerita tentang habib “palsu” yang viral di media sosial terjadi di beberapa daerah di Indobesia. Salah satunya terjadi di Bogor. Seorang pria dengan gangguan kejiwaan memaksa minta sarung dengan mengaku sebagai habib, memicu kemarahan sekaligus belas kasihan. Lebih parah lagi, di Kalimantan Selatan, seorang buronan pencurian motor berhasil membuka majelis taklim selama enam bulan dengan identitas palsu marga Assegaf, sebelum akhirnya kebohongannya terbongkar. Masyarakat yang sempat menghormati dan memfasilitasinya pun merasa dipermainkan.
Fenomena ini bahkan tidak berhenti pada klaim individu, melainkan telah merambah ke ranah bisnis spiritual yang terstruktur. Publik dikejutkan dengan adanya situs palsu yang meniru lembaga resmi Rabithah Alawiyah, menjual gelar habib layaknya produk digital. Cukup dengan membayar sejumlah uang, seseorang bisa serta-merta menyandang gelar “habib premium.” Praktik ini melengkapi daftar panjang penodaan identitas, mulai dari makam palsu, ziarah palsu, hingga ritual-ritual yang dirancang khusus untuk mengeruk keuntungan materi.
Ragam Reaksi: Antara Sentimen Publik Dan Krisis Verifikasi Identitas
Reaksi masyarakat terhadap fenomena ini beragam: Pertama, ada masyarakat yang langsung marah. Kelompok ini yang paling dominan, mereka merasa gelar habib tidak boleh dipermainkan. Mengaku keturunan Rasulullah Saw. tanpa bukti yang akurat adalah bentuk pelecehan spiritual.
Kedua, masyarakat yang merasa ditipu dan malu. Ada pula masyarakat yang pernah mengikuti kajian majelis taklim, pernah menyumbang atau pernah menghormati yang berlebihan kepada seseorang yang ternyata palsu. Masyarakat merasa bahwa kepercayaan dan pengabdian mereka dimanfaatkan untuk tujuan duniawi yaitu mencari keuntungan pribadi.
Ketiga, publik yang mulai skeptis. Akibat banyaknya kasus seperti ini, sebagian masyarakat mulai bersikap curiga setiap ada habib baru yang muncul. Padahal tidak semua habib itu palsu. Pada akhirnya merugikan para habaib asli yang menjalankan amanahnya dengan tulus.
Dari peristiwa habib palsu membuka satu kenyataan pahit bahwa, sebagian masyarakat kita masih mudah untuk dibohongi karena hanya melihat orang dari covernya. Asal pakai gamis, pakai sorban dan bicara dengan nada lembut langsung dianggap suci. Padahal, spiritualitas bukan dilihat dari pakaian, bukan gelar dan bukan pula dari sorban. Tapi dilihat dari akhlak dan amal orang tersebut. Masyarakat kita kadang terlalu mudah percaya pada apa yang terlihat dari luar, bukan siapa dia sebenarnya.
Tabayyun dan Verifikasi Identitas Sebagai Upaya
Untuk membantu publik supaya tidak kehilangan arah karena kejadian ini, dua ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai pedoman: Pertama, perintah untuk tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun) kebenarannya...”
Ayat ini menjadi pedoman agar masyarakat tidak mudah percaya pada klaim apapun, baik klaim berita, klaim status, maupun klaim gelar keagamaan. Ayat ini juga menyuruh kita untuk lebih berhati-hati ketika ada berita untuk mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Kedua, verifikasi identitas dengan tidak mengikuti klaim tanpa ilmu (QS. Al-Isra: 36) “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...” Jika seseorang mengaku habib, maka dia memikul tanggung jawab yang besar untuk membuktikan. Jika tidak bisa, maka dia termasuk orang yang berbicara tanpa pengetahuan yang dimana hal tersebut dilarang oleh islam. Orang yang berbicara tanpa ilmu dapat menyesatkan orang lain dan hal tersebut sangat berbahaya bagi orang awam yang tidak tahu apa-apa.
Pada akhirnya, seseorang tidak harus bergelar habib untuk menjadi pribadi yang jujur dan mulia. Kehormatan tidak ditentukan oleh nama besar yang disandang, melainkan oleh akhlak dan amal. Masyarakat perlu membangun literasi sosial agar tidak mudah terkecoh oleh simbol-simbol kesalehan semu. Kita boleh kagum, boleh hormat, tetapi tetap harus kritis. Dunia maya memang penuh kejutan namun jangan sampai kejutan itu berubah menjadi luka.
Dari banyak kasus yang seperti ini bisa kita lihat bahwa yang suci belum tentu asli. Dan yang sederhana belum tentu tidak mulia. Karena pada akhirnya, kita tidak akan ditanya “Gelar apa yang kamu miliki?.” Tapi “Apa yang telah kamu perbuat dengan hidupmu?.” Kehormatan bukan ditentukan oleh gelar, tapi oleh akhlak.
Marilah kita jadikan fenomena ini sebagai pengingat. Sebagaimana nasihat yang diberikan oleh cendekiawan dan filsuf Islam, Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya." Pada konteks kini, ikatlah setiap klaim dengan verifikasinya. Jangan biarkan hati dan iman kita, yang seharusnya tunduk pada Allah, justru terperangah takjub pada jubah dan sorban. Sorban boleh saja menutupi kepala, tetapi jangan biarkan ia menutupi akal dan mata hati.
Penulis: Nurul Afifah biasa dipanggil Afifah mahasiswi dari UIN Sunan Ampel Surabaya program studi Psikologi.