Press ESC to close

Ideologi Prematur

Sebagai manusia yang notabene sebagai makhluk berpikir; analisis, kalkulasi serta hening kontemplasi harusnya memiliki nilai urgensifitas yang tinggi untuk mematangkan 'ruang privat' ideologi. Tanpa analisia mendalam, kalkulasi akurat serta kontemplasi yang fokus, manusia melulu pola pikirnya akan dijangkiti ideologi prematur yang bodoh, serampangan dan cenderung konyol.

Tetapi dalam banyak kasus; analisis, kalkulasi serta kontemplasi sama sekali tidak bekerja sesuai fungsi normatifnya, bahkan kesemuanya didistorsikan begitu jauh dari teritori kerjanya. Ini terjadi, karena pemilik ideologi berbangga diri dengan minimnya pengatahuan dan kekosongan rasionalitasnya. Sehingga pola pikir serta ideologinya selalu terbantah dan terbata-bata dalam ruang aktual.

Pengetahuan serta rasionalitas adalah dua perangkat yang harus selalu dipakai untuk memasak analisa, menuang kalkulasi serta memurnikan kontemplasi dalam pikiran dan ideologi yang sedang dibuat. Sehingga tinggi rendahnya rasionalitas sangat menentukan dan menjamin prematur tidaknya ideologi seseorang. Atau prematur tidaknya ideologi seseorang sarat dengan pengetahuan dan rasionalitas dirinya.

Lebih jauh secara hitungan ilmiah; kakacauan imagine, ketaksaan berpikir, kerancuan nalar serta kedunguan keseimbangan juga menjadi penyumbang terhadap prematurnya sebuah ideologi yang sedang dibangun, sehingga juga berimplikasi pada aktualisasi yang gagal-frontal. Cacat ideologi seperti ini bukan saja fatal, lebih dari itu evaluasi transormnya amat sulit ditemukan.

Terakhir, jauh sebelum peradaban besar manusia modern terjadi, Nabi Muhammad SAW. mengingatkan kita dalam haditsnya;

..belajar adalah keniscayaan bagi pemeluk jalan kepasrahan (Islam).."

Ini berarti, belajar yang 'pasti' akan melahirkan pengetahuan serta kekokohan rasionalitas adalah fondasi yang harus dibangun untuk melandasi konstruk ideologi serta gerakan yang didengungkan, bukan?

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.