Agama Islam merupakan agama yang menuntut pemeluknya untuk senantiasa berpikir. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menekankan supaya orang muslim menggunakan akalnya. Akal ini nantinya digunakan untuk menggali berbagai sumber ilmu pengetahuan yang telah disediakan oleh Allah Swt. melalui ayat-Nya. Keuataman menggali ilmu pengetahuan sudah dipaparkan oleh Rasulullah Saw. melalui hadisnya yang berbunyi:
عن ابراهيم عن علقمة عن عبد االله بن مسعود رضي االله تعالى عنهم قال قال رسول االله صلى االله تعالى عليه وسلم من تعلم بابا من العلم ينتفع به فى آخرته ودنياه أعطاه االله خيرا له من عمر الدنيا سبعة آلاف سنة صيام ارها وقيام ليليها مقبولا غير مردود
Diriwayatkan dari Ibrahim r.a., dari Alqomah r.a., dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa belajar satu bab ilmu yang ia ambil manfaatnya untuk akhirat dan dunianya maka Allah memberinya kebaikan 7.000 tahun usia dunia, yang berupa kebaikan ibadah puasa di siang hari dan beribadah di malam hari dengan diterima dan tidak ditolak”
Hadis diatas menjelaskan bahwa jika seorang muslim menggali ilmu pengetahuan meskipun sedikit, maka Allah Swt. akan memberikan manfaat atas apa yang telah ia lakukan. Allah Swt. juga berjanji akan memberinya kebaikan yang banyak atas usaha mereka yang memiliki usaha menggali ilmu pengetahuan. Lebih lanjut Rasulullah Saw. menjadikan orang yang menuntut ilmu termasuk orang yang paling tinggi derajat amalnya. Rasulullah Saw. bersabda:
عن ابراهيم عن علقمة عن عبد االله رضي االله عنهم قال قال رسول االله صلى االله تعالى عليه وسلم قراءة القرآن أعمال المكفيين والصلاة أعمال الأعاجز والصوم أعمال الفقراء والتسبيح أعمال النساء والصدقة أعمال الأسخياء والتفكر أعمال الضعفاء ألا أدلكم على أعمال الأبطال قيل يا رسول االله وما أعمال الأبطال قال طلب العلم فإنه نور المؤمن فى الدنيا والآخرة
Diriwayatkan dari Ibrahim r.a., dari Alqomah r.a., dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda: “Membaca Al-Quran adalah perbuatan amal orang yang dicukupi. Salat adalah perbuatan amal orang yang tidak mampu. Puasa adalah perbuatan amal orang yang fakir. Membaca tasbih adalah perbuatan amal wanita. Sedekah adalah perbuatan amal orang yang dermawan. Tafakkur adalah perbuatan amal orang-orang lemah. Ingatlah! aku akan menunjukkan kepada kalian perbuatan amal para orang yang mulia”. Para sabahat bertanya: “Apa itu perbuatan amal orang yang mulia?” Rasulullah Saw. menjawab: “Yaitu mencari ilmu, karena mencari ilmu adalah cahaya bagi orang mukmin di dunia dan akhirat”
Baca juga: Pesan Gus Qoyyum untuk Pencari Ilmu
Berkaca pada Kisah Sahabat Ali r.a.
Melihat hadis diatas, ada kisah menarik yang berkaitan dengan keutamaan ilmu, yaitu kisah sahabat Ali dengan kaum khawarij. Hal ini ditengarai sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintu kota ilmu itu”. Mereka langsung menyiapkan 10 orang untuk membuktikan hal tersebut dengan menanyakan satu peratnyaan sama yang ditanyakan oleh 10 orang khawarij. Pertanyaan tersebut adalah “Mana yang lebih utama antara ilmu dan harta?”
Datanglah orang ke-1 bertanya, Ali Menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta. Buktinya adalah ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Qorun, Fir’aun dan lainnya.” Lalu, ia kembali kepada teman-temannya sambil mengucapkan jawaban yang ia dengar.
Datanglah orang ke-2, Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta. Ilmu akan menjagamu sedang yang menjaga harta adalah dirimu.” Datanglah orang ke-3, Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta. Buktinya adalah orang yang banyak hartanya memiliki musuh banyak, sedangkan orang yang banyak ilmu memiliki banyak teman.”
Datanglah orang ke-4, Ali menjawab “Ilmu lebih utama daripada harta. Buktinya adalah jika harta dibelanjakan ia akan berkurang, sedangkan ilmu diajarkan ia akan bertambah.” Datanglah orang ke-4, Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta, karena orang yang memiliki harta akan dipanggil pelit, sedangkan orang yang berilmu akan dipanggil agung dan mulia.”
Masing-masing dari mereka kembali dengan jawabannya, lalu menyebutkan kepada teman-temannya. Mereka semua terkejut, didapatinya semua jawaban yang diterimanya benar-benar berbeda. Hal itu tentu menjadi indikator, mengenai seberapa luas ilmu yang dimiliki Ali r.a. sehingga dijuluki Pintu Ilmu. Mereka masih mencoba menyangkalnya, dan mengirim 5 orang yang tersisa untuk bertanya lagi.
Datanglah orang ke-6 berbekal dengan pertanyaan yang sama. Ali menjawab ilmu lebih utama daripada harta. Buktinya adalah harta butuh dilindungi dari pencuri sedangkan ilmu tidak butuh dilindungi dari pencuri.
Lalu datanglah orang ke-7, dengan jawaban yang sama Ali memberikan alasan bahwa orang yang berharta akan dihisab di hari kiamat, sedangkan orang yang berilmu akan diberi syafaat di hari kiamat.” Lalu datanglah orang ke-8. Ali menjawab “Ilmu lebih utama daripada harta, karena harta habis dimakan oleh waktu, sedangkan ilmu tidak akan pernah termakan waktu.”
Kepada yang ke-9, Ali Menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta. Buktinya adalah harta mengeraskan hati sedangkan ilmu melunakkan hati.” Lalu, kepada orang ke-10, Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta, sebab orang yang berharta cenderung mengaku sebagai Tuhan. Sedang, orang yang berilmu cenderung mengaku sebagai hamba”.
Lalu orang khawarij kembali berkumpul, mereka terkejut mendengar jawaban-jawaban yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Pada akhirnya, mereka pun memutuskan untuk menemui Ali r.a. secara langsung dan menyatakan keislamannya.
Berdasarkan cerita diatas, kita paham bahwa kita harus mengutamakan menuntut ilmu terlebih dahulu. Karena ilmu yang membawa kita pada berbagai macam inovasi yang menjadikan kita sebagai hamba yang kreatif. Alhasil kita menjadi hamba yang selalu bisa menerima kondisi perkembangan zaman. Wallahu a’lam