Bulan Ramadan sudah di penghujung akhir, namun ada satu hal yang belum kesampaian bagi saya, yaitu safari tarawih.
Sudah jelas bahwa sifat kikir ini bertingkat-tingkat, dan tingkat yang paling tinggi menunjukkan ketidakmampuan untuk memenuhi kewajibannya, seperti mengeluarkan zakat, memberikan nafkah kepada keluarganya, atau mengadakan jamuan untuk tamu.
Apa itu hakikatnya dunia? Kenapa manusia sibuk mengurus dunia sehingga lupa kepada Allah Swt. Serta dirinya sendiri? Yang jelas, kata Gus Ulil, dunia dikatakan dunia karena meliputi tiga unsur. Pertama, karena ada wujudnya (a’yan maujudah); kedua, kita memiliki kepentingan (ada kepentingannya); ketiga, kita melakukan sesuatu untuk mendapatkannya (effort).
Dalam kitab durratun nasihin terdapat beberapa berbagai pendapat ulama mengenai asbabu nuzul (sebab turunnya ayat al-Qur’an) QS. al-Qadr. Tetapi ada pendapat yang menarik yang merujuk dari riwayat Ibnu Abbas r.a. Menurut riwayat ini, turunnya QS. al-Qadr berkaitan dengan kisah Syam’un al-Ghazi.
Diceritakan bahwa pada masa kepemimpinan Umar ibn Abdul Aziz, ia pernah mengutus pasukan ke daerah Romawi untuk keperluan perang.
Ternyata ada hikmah yang besar dibalik kesedihan yang menimpa kita. Salah satunya adalah menaikkan derajat hamba yang sedang ditimpa kesedihan.
Diantara rahmat dan kasih sayang yang Allah Swt. berikan kepada hambanya adalah menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalami kondisi sakit.
Salah satu perkara yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Pencipta adalah memberikan rizki kepada ciptaannya. Rizki merupakan segala sesuatu yang bisa dinikmati manfaatnya. Allah telah menjamin rizki kita dengan cara usaha dan ikhtiar untuk mengunduhnya.
Hari Jumat merupakan salah satu hari yang istimewa di sisi Allah Swt., umat Islam sering menyebut hari Jumat sebagai rajanya hari (sayyidul ayyam).