Press ESC to close

Menafsir Ulang Islam Kontemporer dalam Arus Wacana, Globalisasi, dan Dunia Digital

Dalam era di mana algoritma mendikte cara manusia beragama dan tagar menjadi alat dakwah baru, diskusi tentang al-fikr al-Islāmī al-muʿāsir atau pemikiran Islam kontemporer bukanlah semata topik akademik yang elitis. Ia telah menjelma menjadi medan perjuangan ide, identitas, dan otoritas, di tengah derasnya populisme keagamaan, ekonomi kapitalistik global, dan pertarungan representasi di media sosial. Umat Islam hari ini tidak hanya hidup di masjid atau ḥalaqah, tetapi juga di TikTok dan Twitter, di mana Islam diperdebatkan, dijadikan meme, atau dipolitisasi dalam komentar-komentar yang viral.

Inilah konteks yang diangkat dalam forum “Online Summer Course PCINU Amerika Serikat dan Kanada” edisi ketiga, Jumat 18 Juli 2025, dengan menghadirkan Prof. Shalahudin Kafrawi (Hobart and William Smith Colleges) sebagai narasumber, serta Hujjatullah Ali Mohaqqiqi Saragih (Harvard Divinity School) sebagai moderator. Yang paling menyentuh bukan sekadar siapa yang berbicara, melainkan bagaimana mereka menyusun ulang kerangka berpikir kita tentang Islam kontemporer—bukan sebagai produk jadi, tetapi sebagai proses tafsir yang terus bergerak.

Memahami Pemikiran Islam Sebagai Proses, Bukan Produk

Prof. Kafrawi membuka dengan ajakan untuk tidak tergesa memahami istilah “pemikiran Islam kontemporer”. Ia membedakan antara dua bentuk ekspresi: contemporary Islamic thought (al-afkār al-Islāmiyyah al-muʿāsirah) yang menempatkan umat Muslim sebagai subjek yang berpikir, dan contemporary Islam’s thought (afkār al-Islām al-muʿāsirah) yang menjadikan Islam seolah-olah sebagai aktor simbolik yang “berpikir”. Pertanyaan tersebut membawa kita pada titik krusial: siapa sebenarnya yang berhak dan mampu menafsirkan Islam dalam konteks kekinian?

Bagi sebagian komunitas Muslim, Islam adalah pakaian, makanan, dan budaya; bagi yang lain, Islam adalah jihād, ihsān, atau semangat perubahan sosial. Di ruang digital, Islam bahkan dipresentasikan sebagai branding, identitas, atau ajang pembuktian kebenaran. Di sinilah Prof. Kafrawi menekankan pentingnya membedakan pendekatan insider (dari dalam komunitas Muslim) dan outsider (dari luar), sembari mengkritik bagaimana pendekatan outsider yang didominasi oleh kerangka orientalis dan modernis sering kali menentukan narasi global tentang Islam—termasuk kebijakan-kebijakan terhadap negara-negara Muslim.

Dalam membaca sejarah pemikiran Islam, Prof. Kafrawi mengurai lima luka epistemik yang menjadi latar munculnya pemikiran kontemporer, yaitu: 1) al-Isti’mār (kolonialisme), 2). al-Istishrāq (orientalisme), 3). Modernisme, 4). Kapitalisme, 5). Sosialisme. Kelimanya bukan hanya jejak sejarah eksternal, tetapi menjadi bagian dari memori kolektif umat Muslim yang sedang terus-menerus membentuk kesadaran baru. Pemikiran Islam kontemporer bukan semata reaksi, melainkan ikhtiar tajdīd (pembaharuan) dan taʾwīl (penafsiran kembali) terhadap nilai-nilai dasar Islam di tengah tantangan zaman.

Dari Akademia ke TikTok: Tafsir yang Bertarung dalam Format dan Makna

Dalam pemaparan yang lebih jauh, Prof. Kafrawi membawa kita pada satu kenyataan yang tak dapat dihindari: al-fikr al-Islāmī hari ini tidak hanya dibentuk oleh jurnal dan majālis ilmiyyah, tetapi juga oleh platform media sosial. Isu-isu penting seperti huqūq al-marʾah (hak perempuan), al-bīʾah (lingkungan), al-halāl, dan al-taʿāyush al-dīnī (dialog antariman) kini tidak hanya menjadi tema kuliah, tetapi juga konten viral dalam bentuk reels, threads, dan video pendek berdurasi tiga puluh detik.

Masalahnya, ruang digital memiliki logika sendiri. Ia menyukai kecepatan, emosi, visual, dan kesederhanaan naratif. Dalam ruang ini, narasi yang viral kerap menyingkirkan tafsir yang mendalam. Islam ditarik-tarik menjadi dua kubu: antara yang terlalu formalistis atau yang terlalu populistis. Dalam kondisi seperti itu, umat Muslim rentan kehilangan kerangka kritis untuk memilah antara ʿilm dan opini, antara dalīl dan insting. Maka pertanyaannya, bagaimana pemikiran Islam kontemporer dapat tetap hidup di ruang yang serba cepat ini?

Prof. Kafrawi tidak menawarkan jawaban instan, tetapi menunjukkan bahwa al-fikr al-Islāmī hari ini perlu hadir tidak hanya sebagai doktrin, melainkan sebagai rihlah—perjalanan epistemik yang merangkul kompleksitas zaman. Pemikir Muslim tidak cukup bersembunyi di balik bayān, mereka juga harus belajar bicara dalam gaya dan bahasa umat, tanpa kehilangan kedalaman dan tanggung jawab ilmiah.

Ruang Tafsir, Ruang Tumbuh

Di akhir diskusi, Prof. Kafrawi mengingatkan bahwa Islam tidak pernah statis. Ia adalah proses tafsir yang terus berlangsung, yang selalu dipengaruhi oleh siapa yang menafsir, dalam konteks apa, dan dengan perangkat apa. Pemikiran Islam kontemporer tidak berpretensi untuk menggantikan nass, tetapi menjadi ruang pengolahan antara wahyu dan realitas, antara nilai dan peristiwa. Maka Islam kontemporer adalah upaya menyusun ulang mozaik Islam yang majemuk, bukan untuk menyeragamkan, tetapi untuk membuka ruang-ruang muhādatsah (percakapan), iʿtirāf (pengakuan), dan musyārakah (partisipasi).

Dalam dunia yang terus bergerak, menjadi Muslim bukanlah status tetap. Ia adalah proyek tahawwul, perubahan terus-menerus. Dan pemikiran Islam kontemporer adalah peta, kompas, dan mungkin juga cermin untuk menuntun perjalanan panjang itu—agar tetap berakar pada nilai ilahiah, tetapi tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

Mansur Hidayat

Mansur Hidayat adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus dan pengurus LPTNU Kabupaten Demak. Ia merupakan alumnus dari sejumlah pesantren, yaitu PP Sirojuth Tholibin Grobogan, PP Al-Bahroniyyah Demak, PPRQ An-Nasimiyyah Semarang, dan PP Nailul ‘Ula D.I. Yogyakarta, yang membentuk dasar keilmuan dan spiritualitasnya. Saat ini sedang menempuh studi doktoral.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.