Ada sebuah kegelisahan besar yang sedang menjalar ke seluruh dunia pendidikan hari ini, sekolah semakin maju fasilitasnya, tetapi semakin miskin kebijaksanaannya. Generasi kian cerdas, tetapi kehilangan arah. Gelar bertambah, tetapi martabat menurun. Inilah saat di mana pesantren menjadi tempat istirahat terakhir bagi nilai-nilai yang modernitas tidak mampu pelihara: ketulusan, adab, dan ketenanga
Sejarah mencatat bahwa santri NU memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 membakar semangat para santri untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi belanda.
Santri menjadi elemen penting dalam mendakwah Islam di masyarakat. Dalam lintasan sejarah Nusantara, Santri telah menjadi motor penggerak nilai-nilai keislaman dan keindonesian. Santri pada gilirannya dicirikan berwatak moderat, cinta tanah air, dan promotor perdamaian.
Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (2007), Kuntowijoyo menjelaskan, bahwa agama tidak boleh berhenti pada dogma saja, tetapi agama harus menjadi sebuah ilmu yang rasional dan empiris, yang mampu menjelaskan realitas sosial.
bagaimana relasi gender yang dibangun dan dipraktikkan di dunia pesantren, terkhusus berkaitan dengan peran santri perempuan?
Dua kasus yang belakangan menyita perhatian publik—tragedi mahasiswa neurodivergent di Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra, dan kontroversi media yang menghina tradisi Pondok Pesantren Lirboyo dan KH Anwar Manshur—adalah cerminan nyata dari operasional Teori Subaltern dalam masyarakat.
Era digital saat ini menghadapkan kita semua pada situasi yang unik, situasi yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Atau, jika pernah kita alami, derajat pengalaman itu tidak seintensif saat ini. Saya ingin menyebutnya sebagai “situasi panoptikon”.
Viralnya peristiwa seorang kepala sekolah yang menampar siswanya karena merokok di lingkungan sekolah memperlihatkan dua penyakit sosial sekaligus: merosotnya disiplin murid dan cepatnya publik menghakimi guru. Satu sisi yang salah sudah jelas—seorang siswa melanggar aturan moral dan hukum sekolah—namun yang disorot justru guru yang menegur keras.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat santri di berbagai pelosok tanah air kembali dibuat gusar oleh tayangan salah satu program televisi di Trans7 yang dianggap menghina dunia pesantren. Dalam segmen yang dimaksud, muncul representasi pesantren yang dilecehkan melalui candaan berbau stereotip dan pelecehan moral. Reaksi keras pun datang dari berbagai kalangan: para kiai, alumni pondok pesantre