Tulisan ini terinspirasi oleh Bapak Taufan Restuanto Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, saya mendapatkan share link dari beliau saat acara Halal Bihalal di Dinas Pendidikan dengan para pegawai, pengawas dan penilik di Kabupaten Bondowoso. Narasi unik dari bapak Kepala Dinas Pendidikan yang menarik perhatian “Gunakan waktu libur untuk memperbanyak hubungan sosial yang positif. Jaga Silaturrahmi, kunjungan keluarga dan serap nilai-nilai kearifan lokal dilingkungan sekitar”. Beliau menjelaskan setelah anak-anak masuk sekolah dia diberi tugas untuk menceritakan pengalamannya selama lebaran dan menceritakan hubungannya dengan saudara-saudara yang dia ceritakan. Karena hal yang mulai hilang dari anak-anak kita yaitu kurangnya interaksi sosial karena saat lebaran anak lebih banyak disibukkan dengan smartphone dan orang tuanya yang banyak mengambil manfaat membangun hubungan emosional, parahnya orang justru tidak mengenalkan silsilah saudara yang dikunjungi . Gagasan yang diutarakan bapak Taufan tersebut sangat positif untuk menjadikan momentum idul fitri sebagai madrasah sosial anak untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya (emotional Intellegence). Saya sangat sependapat dengan beliau bahwa interaksi sosial yang baik mampu menumbuhkan empati, kepedulian serta sikap santun pada siswa.
Tulisan ini mengajak orang tua untuk membaca dan memahami putra putri kita yang usianya masih dibawah tujuh tahun atau .tepatnya balita terutama di momentuk siluturrahmi idul fitri baik saat berkunjuang atau saat dikunjungi saudara-sadara ke rumah kita.
Momentum Idul Fitri selalu menghadirkan suasana yang khas: kebersamaan keluarga, silaturahmi lintas generasi, kegembiraan anak-anak, serta beragam interaksi sosial yang intens. Di tengah atmosfer tersebut, anak-anak sering menjadi pusat perhatian baik karena kelucuan mereka maupun karena perilaku yang oleh sebagian orang tua dinilai “kurang tepat”. Anak yang cepat bosan dengan mainan barunya, enggan berbagi, merengek ingin pulang, atau terlalu aktif sering kali langsung diberi label negatif. Padahal, jika dilihat dari perspektif psikologi pendidikan anak, perilaku-perilaku tersebut justru menyimpan makna perkembangan yang penting dan positif.
Idul Fitri, dalam konteks psikologis, merupakan “laboratorium sosial” bagi anak. Dalam waktu singkat, mereka dihadapkan pada berbagai stimulus: keramaian, perubahan rutinitas, banyaknya orang baru, hadiah, serta norma sosial yang mungkin belum sepenuhnya mereka pahami. Dalam situasi seperti ini, perilaku anak bukan sekadar refleksi dari “baik atau buruknya pengasuhan”, melainkan representasi dari proses perkembangan kognitif, emosional, dan sosial yang sedang berlangsung.
Salah satu perilaku yang sering disalahpahami adalah ketika anak cepat bosan dengan mainan baru yang ia dapatkan karena “barokah” dari silaturrahmi saat Idul Fitri. Banyak orang tua menganggap hal ini sebagai bentuk ketidaksyukuran atau sifat tidak menghargai pemberian. Namun, dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini justru menunjukkan tingginya rasa ingin tahu (curiosity) dan kecenderungan eksploratif anak bahkan kecerdasan anak bisa menjadi salah satu indikator dari banyak banyaknya mainan anak yang telah dieksplorasi. Anak yang cepat bosan bukan berarti tidak tertarik, melainkan ia telah cukup memahami cara kerja mainan tersebut dan ingin mencari pengalaman baru. Ia seperti seorang ilmuwan kecil yang terus berpindah dari satu eksperimen ke eksperimen lain, bukan karena tidak puas, tetapi karena dorongan untuk memahami lebih banyak hal. Dalam kerangka ini, kebosanan bukanlah kelemahan, melainkan indikator bahwa otak anak bekerja secara aktif dan dinamis.
Perilaku kedua yang sering disalahartikan adalah ketika anak tidak mau meminjamkan mainannya kepada orang lain bahkan tidak jarang rebutan mainan seperti halnya rebutan harta warisan yang tentu berujung air mata. Dalam banyak situasi keluarga saat Idul Fitri, anak yang enggan berbagi sering langsung dicap sebagai pelit atau egois. Padahal, pada tahap perkembangan tertentu, anak sedang belajar memahami konsep kepemilikan (sense of ownership). Ia mulai mengenali bahwa ada sesuatu yang “menjadi miliknya” dan merasa bertanggung jawab terhadapnya. Ini adalah fondasi penting bagi pembentukan nilai tanggung jawab dan integritas di masa depan. Seorang anak yang menjaga barang miliknya sebenarnya sedang belajar tentang batas, hak, dan tanggung jawab. Analogi sederhana dapat kita lihat pada orang dewasa, tidak semua orang bersedia meminjamkan barang pribadinya, seperti telepon genggam atau kendaraan, bukan karena pelit, tetapi karena ada pertimbangan tanggung jawab dan nilai personal.
Perilaku ketiga adalah anak yang merengek ingin pulang saat acara silaturahmi masih berlangsung. Orang tua sering merasa malu dan menganggap anak tidak patuh atau manja. Namun, dari perspektif psikologi, hal ini bisa menjadi tanda bahwa anak memiliki kesadaran diri (self-awareness) yang baik. Ia mampu mengenali kondisi emosional dan fisiknya sendiri apakah ia lelah, bosan, atau terlalu banyak menerima stimulus, bahkan sisi baiknya disitulah kejujuran anak bisa kita lihat. Lingkungan Idul Fitri yang ramai dan penuh interaksi bisa menjadi pengalaman yang melelahkan bagi anak, terutama yang memiliki sensitivitas tinggi. Dalam konteks ini, keinginan untuk pulang bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan upaya anak untuk kembali ke zona nyaman dan menstabilkan dirinya. Ini adalah bagian awal dari kemampuan regulasi diri (self-regulation) yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian.
Selain tiga contoh tersebut, terdapat banyak perilaku anak lain yang sering dinilai negatif, tetapi sebenarnya memiliki makna positif. Misalnya, anak yang banyak bertanya saat silaturahmi sering dianggap cerewet atau mengganggu. Padahal, kebiasaan bertanya merupakan indikasi berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi. Anak sedang berusaha memahami dunia di sekitarnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bagi orang dewasa terasa sederhana, tetapi bagi anak sangat fundamental.
Begitu pula dengan anak yang tidak bisa diam dan cenderung aktif bergerak saat berkumpul. Perilaku ini sering dilabeli sebagai kenakalan atau ketidaksopanan. Namun, dalam banyak kasus, anak tersebut memiliki kecenderungan sebagai pembelajar kinestetik, yaitu anak yang belajar dan mengekspresikan dirinya melalui gerakan. Energi yang tinggi bukanlah masalah, melainkan potensi yang perlu diarahkan. Dalam analogi sederhana, anak seperti mesin yang memang dirancang untuk bergerak; memaksanya diam justru bertentangan dengan cara kerjanya.
Ada pula anak yang terlihat malu, tidak mau bersalaman, atau bersembunyi di belakang orang tua saat bertemu tamu. Banyak orang tua menganggap ini sebagai sikap tidak sopan. Namun, dalam perspektif kepribadian, anak tersebut mungkin memiliki kecenderungan introvert atau membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia sedang membangun rasa aman sebelum membuka diri. Sama halnya dengan orang dewasa yang tidak langsung merasa nyaman dalam lingkungan sosial baru, anak pun membutuhkan proses adaptasi yang tidak bisa dipaksakan.
Hal lain yang sering disalahpahami adalah anak yang mudah marah atau rewel selama momen Idul Fitri. Orang tua kerap menilai anak sebagai pemarah atau tidak bisa diatur. Padahal, kondisi ini sering disebabkan oleh kelelahan fisik dan emosional akibat padatnya aktivitas, perubahan jadwal tidur, serta banyaknya stimulus yang diterima. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan regulasi emosi anak belum sepenuhnya matang, sehingga ia mengekspresikan ketidaknyamanannya melalui tangisan atau kemarahan. Ini bukanlah tanda buruk, melainkan bagian dari proses belajar mengelola emosi.
Bahkan, anak yang tampak sangat fokus pada THR atau hadiah sering kali dicap materialistis. Padahal, pada tahap perkembangan kognitif tertentu, anak memang masih berada pada fase berpikir konkret. Ia memahami nilai melalui sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung. THR atau hadiah menjadi simbol yang mudah dipahami sebagai bentuk apresiasi atau kebahagiaan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, pemahaman anak tentang nilai akan berkembang menjadi lebih abstrak.
Dari berbagai contoh tersebut, dapat kita lihat bahwa perilaku anak tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai baik atau buruk. Setiap tindakan memiliki konteks perkembangan yang melatarbelakanginya. Dalam psikologi pendidikan, penting bagi orang tua dan pendidik untuk tidak terburu-buru memberikan label negatif, karena label tersebut dapat memengaruhi konsep diri anak dalam jangka panjang. Anak yang terus-menerus disebut “nakal”, “pelit”, atau “manja” bisa saja mulai mempercayai label tersebut dan membentuk identitas diri yang sesuai dengan penilaian tersebut.
Sebaliknya, jika orang tua mampu melihat perilaku anak sebagai bagian dari proses belajar, maka pendekatan yang diambil akan lebih konstruktif. Anak yang cepat bosan dapat difasilitasi dengan aktivitas yang lebih variatif dan menantang. Anak yang enggan berbagi dapat diajarkan konsep berbagi secara bertahap tanpa memaksakan. Anak yang ingin pulang dapat diajak berdialog untuk memahami perasaannya. Dengan demikian, orang tua tidak hanya mengoreksi perilaku, tetapi juga mendampingi perkembangan anak secara utuh.
Momentum Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarorang dewasa, tetapi juga menjadi ruang belajar dan bersosialisasi yang bermakna bagi anak. Dalam keramaian dan dinamika sosial tersebut, anak-anak sedang membangun pemahaman tentang dunia, relasi, dan dirinya sendiri.
Tugas orang tua bukanlah menuntut kesempurnaan perilaku, melainkan menjadi penafsir yang bijak atas setiap ekspresi anak.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa apa yang tampak sebagai “perilaku negatif” sering kali hanyalah “potensi positif yang belum dipahami”. Anak-anak tidak sedang mengganggu suasana Idul Fitri; mereka justru sedang menjalani proses penting dalam pembentukan kepribadian. Dengan sudut pandang yang lebih empatik dan ilmiah, orang tua dapat mengubah momen-momen yang sebelumnya dianggap merepotkan menjadi kesempatan berharga untuk memahami dan mendukung tumbuh kembang anak.
Sebagaimana Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali pada fitrah, mungkin sudah saatnya kita juga kembali pada fitrah dalam memandang anak bahwa mereka adalah individu yang sedang tumbuh, belajar, dan mencari makna. Dan dalam setiap perilaku mereka, selalu ada pesan perkembangan yang menunggu untuk dipahami, bukan untuk dihakimi.
Oleh: Dr. Suheri, M. Pd. I (Ketua Dewan Pendidikan Kab. Bondowoso)