Press ESC to close

Retaknya Adab Berbahasa: Merenungi Fenomena Ucapan Kotor di Media Sosial

 

Di era digital seperti sekarang ini, manusia semakin bebas dalam mengekspresikan diri. Media sosial juga memberikan ruang yang begitu luas untuk berbicara tanpa batas. Namun sayangnya, kebebasan seringkali digunakan tanpa memperhatikan adab. Salah satu perubahan paling mencolok adalah semakin normalnya kata-kata kasar dalam kehidupan sehari-hari.

Ucapan yang dulu dianggap dan tidak pantas kini menjadi hal yang wajar, bahkan sering dijadikan bahan candaan. Fenomena ini mungkin terlihat sepele, tetapi sesungguhnya ini menjadi tanda bahwa kita sedang mengalami keretakan dalam adab berbahasa.

Dalam Islam, lisan itu merupakan amanah besar yang harus dijaga. Rasulullah Saw. pernah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang itu bisa terlihat dari lisannya. Ucapan yang baik adalah cerminan hati yang baik pula. Namun sekarang banyak dari kita yang mulai memandang enteng kata-kata buruk.

Mulut mudah sekali mengeluarkan caci makian tanpa berpikir panjang. Bahkan banyak orang menganggap bahwa jika tidak berkata kasar, obrolan itu akan terasa kurang seru. Padahal, Islam menjadikan adab lisan sebagai bagian penting dari keimanan. Jika seorang Muslim benar-benar memahami hal itu, tentu ia akan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Fenomena Ucapan Kotor di Media Sosial

Salah satu yang memprihatinkan yaitu kata-kata kotor tidak lagi dianggap sebagai ekspresi negatif. Seolah-olah itu adalah bagian dari budaya modern yang tidak boleh dianggap kolot. Budaya ini semakin kuat karena diperbanyak oleh konten-konten di media sosial.

Banyak kreator menggunakan kata kotor ini sebagai bumbu humor agar lebih menarik perhatian. Semakin kasar, semakin dianggap lucu, semakin banyak yang menonton. Penonton yang tidak memahami batas adab akhirnya meniru gaya tersebut, lalu menyebarkannya ke kehidupan nyata. Akhirnya, lingkungan kita dipenuhi percakapan yang tidak lagi mengenal rasa malu.

Fenomena ini juga terlihat ketika seseorang memanggil temannya dengan nama hewan atau sebutan kasar lainnya. Bukannya dianggap menghina tapi malah sering dianggap sebagai bentuk keakraban. Ada yang merasa semakin lebih dekat jika saling mengejek dengan ucapan yang tidak pantas itu. Padahal, emang ada kedekatan yang layak dibangun dengan cara merendahkan harga diri satu sama lain?

Dalam Islam, memanggil seseorang dengan panggilan yang buruk itu jelas sangat dilarang, karena hal itu merendahkan martabat manusia. Kita mungkin tertawa saat melakukannya, tetapi ada hati yang perlahan kehilangan rasa hormat dan empati.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri bagi adab. Dulu, orang tua sering mengingatkan anak-anak agar menjaga lisan. Ada rasa takut untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tetapi sekarang teguran seperti itu mulai jarang kita dengar.

Banyak orang tua yang terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan cara anak berbicara. Bahkan sebagian ikut menggunakan kata-kata kasar, sehingga anak akan mencontoh tanpa merasa salah. Ketika generasi yang lebih tua saja melanggar adab, bagaimana generasi muda bisa belajar menjaga tutur?

Sikap masyarakat pun semakin toleran dengan hal ini. Kita sering membiarkan kata kotor keluar dari mulut orang lain tanpa keberanian untuk mengingatkan. “Biarin aja, semua orang juga begitu,” itu adalah alasan yang sering kita gunakan. Padahal, keburukan yang dibiarkan itu akan tumbuh lebih besar.

Ketika kita tidak lagi merasa terganggu oleh ucapan yang buruk, itu artinya standar adab dalam diri kita mulai menurun. Lama kelamaan, bukan hanya kata-kata yang berubah, tetapi juga karakter dan perilaku kita.

Kekuatan lisan dalam membentuk pribadi itu sangatlah besar. Ucapan yang lembut mampu menenangkan suasana, dan ucapan yang keras mampu memicu pertengkaran. Sering kali masalah besar bermula hanya dari satu kata yang tidak dipikir panjang. Maka menjaga lisan merupakan salah satu bentuk pengendalian diri yang paling penting.

Islam dan Adab Berbahasa

Islam mengajarkan agar seseorang berkata baik atau diam. Prinsip ini bukan untuk membatasi kreativitas atau kebebasan, melainkan untuk menjaga martabat kita sebagai manusia yang berakal dan beriman.

Menjaga adab berbahasa bukan berarti kita harus selalu serius. Kita tetap bisa bercanda, tetap bisa berbicara santai, namun tetap dalam batasan yang sopan. Humor tidak harus dalam bentuk kata kasar untuk menjadi lucu.

Keakraban tidak harus dibangun dengan saling merendahkan. Justru komunikasi yang santai tetapi tetap sopan menunjukkan kedewasaan seseorang dalam memilih kata. Sikap ini mencerminkan akhlak yang kuat dan penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, menjaga lisan juga berdampak besar pada kondisi batin. Mereka yang terbiasa menggunakan kata-kata baik cenderung memiliki hati yang lebih tenang. Sebaliknya, mereka yang sering berkata kasar biasanya lebih mudah tersulut emosi.

Ucapan buruk dapat mengeraskan hati, sedangkan ucapan yang lembut itu akan melunakkan hati. Banyak ulama menyebut bahwa lisan adalah pintu menuju hati. Jika pintu itu dijaga dengan baik, maka kebaikan pun lebih mudah masuk dan menetap.

Upaya memperbaiki adab berbahasa memang tidak bisa dilakukan dalam sehari. Namun, kita bisa memulainya dari langkah kecil yang konsisten. Misalnya, menghindari kata-kata yang merendahkan, mengganti makian dengan ungkapan lain yang lebih sopan, atau menahan diri sejenak ketika sedang marah. Kita juga bisa memberi contoh yang baik kepada teman-teman. Tidak perlu menggurui, cukup menunjukkan bahwa berbicara sopan pun bisa menyenangkan dan tetap asik.

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya tentang etika, tetapi juga tentang menunjukkan identitas kita sebagai Muslim. Di tengah zaman yang serba bebas seperti sekarang, lisan yang terjaga adalah bentuk perlawanan kecil namun besar maknanya.

Dengan memperhatikan ucapan, kita turut melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari krisis akhlak yang semakin meluas. Mari mulai dari diri sendiri, karena perubahan yang besar selalu berawal dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Dengan menjaga apa yang keluar dari mulut kita, kita sedang menjaga kemuliaan diri kita sendiri. Dan ketika seorang Muslim mampu menjaga lisannya, ia telah menjaga separuh dari kehormatan hidupnya.

Penulis: Ni'mah Mufidah, seorang mahasiswa dari universitas Islam negeri sunan Ampel dengan program studi psikologi.

 

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.