Press ESC to close

Sumbangsih Santri untuk Bangsa

Sudah berabad abad lamanya santri mengabdi dan memberikan kontribusinya pada negeri ini, sempat termarjinalkan dan terhapus oleh sejarah karena kepentingan politik tertentu, kini santri bertranformasi menjadi sosok yang digadang-gadang akan kembali meneruskan eksistensi bangsa ini kedepan.

Fakta sejarah telah membuktikan bagaimana santri tak pernah absen mengawal negeri ini terhitung sejak sebelum kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan. Jika diruntut kembali sejarah bangsa ini, Pesantren menjadi kawah candradimuka tempat penggemblengan bagi calon pejuang kemerdekaan pada masanya. Model tarbiyah pesantren dengan kiai sebagai tokoh sentral menjadi kiblat para santri dalam menentukan sikap. Sosok kiai yang selalu memberikan pemahaman akan pentingnya mencintai tanah air telah mengakar kuat dan menjadi sebuah doktrin yang diugemi. Makanya tak heran jika santri akan menjadi barisan pertama yang akan bertindak tegas jika ada yang mengusik eksistensi bangsa ini. Santri selamanya akan menjadi garda terdepan dalam mengawal dan menjaga negeri ini dari perongrong dan perusak bangsa.

Bukti konkret inilah yang menjadikan santri memiliki saham besar atas negeri ini. Saham yang diwariskan para founding father bangsa ini amat berharga dan akan terus dijaga. Kendati demikian, momen-momen krusial terus bergulir sampai detik ini, kepentingan kepentingan pribadi berkedok agama, begitu juga ideologi yang bersebrangan dengan identitas bangsa  sering muncul dan merusak tatanan negeri ini. Hal inilah yang sering membuat geram “kaum sarungan“.

Sebagai generasi penerus bangsa, santri menjelma sebagai satu barisan yang mulai mengisi pos-pos penting dan strategis negeri ini. Jika dulu kontribusi fisik santri mendominasi perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonial, ssekarang kemampuan membangun peradaban lah yang menjadi fokus utama para santri dalam mengabdi pada bangsa. Jika dikatakan santri hanya identik dengan ngaji kitab dan kolot dengan segala perubahan, maka sekarang kenyataanya berbalik apa adanya. Jika dulu sebagian orang bilang ”mondok, mau jadi apa?“ sekarang menjadi “mau jadi apa kalau nggak mondok?”.

Ditengah minimnya moral dan dampak perkembangan teknologi yang tereduksi oleh konten konten negatif, pergaulan bebas terlalu leluasa memberikan efek negatif kepada generasi muda bangsa ini. Dan lagi lagi pesantrenlah dengan segala model tarbiyah yang diajarkannya yang mampu mempersiapkan generasi yang akan mengawal eksistensi negeri ini. [HW]

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.