Press ESC to close

Menelusuri Jejak Ulama Jawa di Singapura (2)

Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi: Tokoh Pendidikan Islam Singapura 

Nama Syaikh Fadhlullah bin Muhammad Suhaimi (1886–1964) bukanlah nama yang asing di kalangan masyarakat Muslim Singapura. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama besar yang berpengaruh dalam menyebarkan dakwah Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Singapura pada paruh pertama abad ke-20 M. Selain itu, Syaikh Fadhlullah bin Muhammad Suhaimi juga tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam modern di Singapura.

Menariknya, sosok Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi ini memiliki ikatan kebangsaan, kebudayaan, dan keilmuan yang sangat kuat dengan Jawa. Abu Muhammad (2012) menyebutkan jika Kiyai Suhaimi (1843–1925), ayah dari Syaikh Fadhlullah, berasal dari Kampung Sudagaran di Wonosobo (Jawa Tengah). Kiyai Suhaimi tercatat pernah belajar di Pesantren Tremas (Pacitan), pada masa pengasuhan Kiyai Abdul Mannan Dipomenggolo (w. 1862), yang merupakan kakek dari Syaikh Mahfdz Tremas Makkah (w. 1920). Dari Tremas, Kiyai Suhaimi kemudian pergi ke Makkah. Di sana, beliau belajar kepada Syaikh Nawawi Banten (1813–1897). Setelah menyelesaikan pendidikannya di Timur Tengah, Kiyai Suhaimi kemudian berkarir di Singapura dan Selangor (Malaya). 

Adapun ibu dari Syaikh Fadhlullah adalah Nyai Qani’ah binti Abdul Rahim, berasal dari Kalibeber, Wonosobo. Dari jalur sang ibu, Syaikh Fadhlullah masih terhitung sebagai sepupu dari Kiyai Muntaha (1912–2004) bin Asy’ari (w. 1949) bin Abdul Rahim (w. 1916), seorang ulama kharismatik ahli al-Qur’an yang juga pengasuh sebuah pesantren tua di Kalibeber Wonosobo. Sang kakek, yaitu Kiyai Abdul Rahim, tercatat mengasuh pesantren al-Qur’an di Kalibeber sejak tahun 1860.

Manaqib mengenai Kiyai Suhaimi dan ibunya ditulis oleh sang putra, Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi, dalam sebuah risalah berbahasa Jawa aksara Arab (Pégon). Risalah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Encik Ramli bin Ilyas, dan disempurnakan oleh Haji Muhammad Thaha bin Fadhlullah bin Suhaimi.

Syaikh Fadhlullah sendiri dilahirkan di Kampung Glam pada tahun 1886. Ia mendapatkan tempaan pendidikan dari ayahnya, yaitu Kiyai Suhaimi. Pada tahun 1896, ketika Fadhlullah masih berusia 10 tahun, ia pergi ke Kalibeber Wonosobo untuk belajar di tempat kakeknya, yaitu KH. Abdul Rahim. Di Kalibeber, Fadhlullah belajar selama kurang lebih dua tahun lamanya, untuk kemudian kembali ke Singapura. 

Pada tahun 1906, Fadhlullah melanjutkan belajarnya ke Makkah. Di sana ia belajar kepada Syaikh Mahfuzh Tremas dan sejumlah ulama Melayu-Nusantara lainnya yang mengajar di Kota Suci, selain kepada para ulama Arab lainnya. Di Makkah pula Fadhlullah berjumpa dengan KH. Abdul Wahhab Chasbullah, seorang ulama besar dari Jawa yang kelak menjadi salah satu sahabat dekatnya. Pada tahun 1911, Fadhlullah meneruskan pengembaraan intelektualnya ke al-Azhar di Kairo, Mesir. Ia belajar di al-Azhar selama kurang lebih 5 tahun lamanya, di mana pada tahun 1916 ia kembali ke Singapura (Sulaiman Jeem, 1997). 

Sekembalinya ke Singapura, Syaikh Fadhlullah diangkat sebagai kepala Madrasah al-Saggof, salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Singapura dan masih eksis hingga sekarang. Pada tahun 1931, dengan bantuan seorang dermawan kaya, Datuk Syed Hassan al-Hasan, Syaikh Fadhlullah membuka sekolah bahasa Arab di Johor (Malaya), bernama Kulliyyah al-Attas. Beberapa tahun kemudian, beliau membuka sekolah lain di Bartley Road, Singapura, bernama “Kulliyah Firdaus”. Lalu pada tahun 1936, Syaikh Fadhlullah juga mendirikan Madrasah al-Ma’arif al-Islamiah di kawasan Ipoh Road, Singapura. Madrasah inilah yang kemudian melekat erat sebagai salah satu legacy terkuat Syaikh Fadhlullah dan masih eksis hingga hari ini (Sulaiman Jeem, 1997).

KH. Abdul Wahhab Chasbullah di Singapura

KH. Abdul Wahhab Chasbullah (1888–1971) merupakan salah satu tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Didirikan di Surabaya pada 16 Rajab 1344 Hijri (31 Januari 1926), NU tercatat sebagai organisasi keagamaan Islam terbesar di dunia yang berhaluan ideologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Saat ini, NU telah tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, serta memiliki cabang istimewa di belahan dunia internasional. 

Sejarah awal mula perkembangan NU tidak bisa dilepaskan dari “Komite Hijaz”, yaitu sebuah kepanitiaan kecil (komite) yang dibentuk untuk pergi berlayar ke Hijaz dengan tujuan bertemu dengan Raja Abdul Aziz al-Saud (sebagai penguasa baru Hijaz), guna menyampaikan amanat dan membawa misi perjuangan umat Muslim Nusantara untuk melestarikan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Komite kecil tersebut dibentuk pada tahun 1926, namun baru terealisasi pada tahun 1928. 

Terdapat lima buah tuntutan yang disampaikan oleh Komite Hijaz kepada Raja Abdul Aziz al-Saud. Pertama: memohon agar tetap dilestarikannya ajaran bermazhab ala Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri Hijaz, khususnya Makkah dan Madinah, baik mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau pun Hanbali. Komite juga memohon agar kitab-kitab ajaran mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik dalam bidang aqidah, fiqih, dan tasawuf di bidang tasawuf, tetap diberi keleluasaan untuk tetap diajarkan.

Kedua, memohon agar tempat-tempat bersejarah, baik makam, masjid, dan bangunan wakaf lainnya, tidak dihancurkan dan tetap leluasa untuk dapat diziarahi dan dimakmurkan; Ketiga, memohon agar penentuan tarif dan biaya haji diumumkan jauh-jauh hari sebelum musim haji tiba. Hal ini agar jama’ah yang akan menunaikan ibadah haji dapat mempersiapkan ongkos dan perbekalan yang cukup, selain untuk meminimalisir berbagai penipuan dan kasus lainnya yang merugikan.

Keempat, memohon agar semua peraturan yang berlaku di wilayah Hijaz dapat ditulis dalam bentuk undang-undang, agar tidak terjadi pelanggaran terhadap peraturan tersebut; dan Kelima, Nahdlatul Ulama memohon balasan surat tertulis, yang isi keterangan bahwa dua orang delegasi NU telah benar-benar menyampaikan surat dan permohonan-permohonan tersebut kepada Raja Abdul Aziz al-Saud. 

Dalam pelayaran menuju Hijaz, utusan komite yang terdiri dari KH. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir al-Azhari al-Mishri, ternyata singgah di Singapura selama beberapa hari lamanya. Sya’ban (2023) telah menyunting dan menerjemahkan dokumen catatan perjalanan Komite Hijaz bertahun 1928 tersebut.

KH. Abdul Wahhab Chasbullah bertolak dari pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya (Jawa Timur) pada hari Kamis 07 Syawal 1346 Hijri (29 Maret 1928). Beliau kemudian mendarat di pelabuhan Tanjung Pagar (Singapura) pada hari Senin 11 Syawal 1346 Hijri (01 April 1928). Sejumlah ulama dan tokoh Muslim Singapura terkemuka menyambut kedatangan sang Kiyai Jawa itu. Di antara mereka yang tercatat menyambut kedatangan KH. Abdul Wahhab Chasbullah adalah Tuan Ahmad Hakim, Tuan Salim Mathor, Tuan Fadhlullah bin Suhaimi, dan lain-lain.

Dalam memoar catatan perjalanannya, KH. Abdul Wahhab Chasbullah mengatakan jika selama berada di Singapura, beliau tinggal dan menginap di rumah Tuan Salim Mathor, yang terletak di Kampung Palembang Road. Umat Muslim Singapura mengadakan sebuah acara khusus yang besar dan meriah untuk menyambut kedatangan KH. Abdul Wahhab Chasbullah di kawasan Kampung Glam. Beliau menulis:

“…Sederek-sederek Singgapur sampun ngawontenaken pakempelan hing Kampung Gelam Singgapur. Wahu pakempelan dipun pengajengi dining Tuan Fadhlullah Suhaimi, direktur Mathba’ah al-‘Aththâs saha redaktur Majalah Jasa ing Johor, saha imam masjid jami Kampung Jawa Singgapur; saha Tuan Encik Mas’ud inspektur Madâris al-Islâmiyyah wahu jumeneng adviseur raadagama Islam ing tanah Johor (Suadara-saudara di Singapura telah mengadakan acara pertemuan di Kampung Glam Singapura. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Tuan Fadhlullah Suhaimi, yaitu kepala percetakan al-Athas, juga redaktur Majalah Jasa di Johor, sekaligus imam masjid jami di Kampung Jawa Singapura; demikian juga ada Tuan Encik Mas’ud, yang menjabat sebagai inspektur sekolah-sekolah Islam sekaligus penasihat raadagama Islam di Johor)…”

Beberapa majlis lanjutan terus digelar di Singapura selama beberapa kali berikutnya untuk menghormati kedatangan KH. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir. Pada malam Sabtu, 16 Syawal 1346 Hijri (06 April 1928), Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi menginisiasi pertemuan lanjutan di kawasan Kampung Glam. Pada pertemuan tersebut, hadir beberapa tokoh Muslim Singapura, di antaranya adalah: Encik Muhammad Yunus (guru agama Singapura), Haji Ali bin Haji Muhammad Sholeh (guru madrasah Singapura), Encik Mas’ud bin Haji Zainal Abidin (inspektur madrasah di Johor dan adviseur raad agama Islam Johor), Syaikh Muhammad al-Syadzini bin Utsman Serawak, Encik Muhammad Hasyim bin Yunus, Haji Thahir bin Haji Ahmad, Haji Said (wakil qadhi Singapura),  Muhammad Amin bin Haji Sam’un, Abdul Majid (sekretaris Syubbanul Wathon Surabaya), dan lain-lain.

Selanjutnya, pada hari Selasa 19 Syawal 1346 Hijri (09 April 1928), diadakan lagi pertemuan antara delegasi Komite Hijaz dengan tokoh Muslim Singapura. Terkait pertemuan kali ini, KH. Abdul Wahhab Chasbullah menulis:

“…Maka kutika malam Selasa 19 Syawwal 1346, dengan siap penduduk Singapur yang menghadiri itu persidangan dengan beberapa kendaraan motor dan becak-becak. Maka itu persidangan kejadian dihadiri kira-kira 80 orang…” 

Tiga hari kemudian, yaitu pada hari Jum’at 22 Syawal 1346 Hijri (12 April 1928), Tuan Ahmad Hakim (syaikh masâyikh al-hujjâj Singapura) menginisiasi pertemuan dalam skala yang lebih besar untuk menghormati kedatangan utusan Komite Hijaz dari Jawa tersebut. Sehari kemudian, yaitu pada Satu 23 Syawal 1346 Hijri (13 April 1928), delegasi Komite Hijaz diundang ke sociëteit Dâr al-Nâdî al-‘Arabî, yaitu sebuah forum perkumpulan keturunan Arab di Singapura. Di sana, pertemuan antara KH. Abdul Wahhab Chasbullah dengan para tokoh Arab Singapura pun dilangsungkan dengan menggunakan bahasa Arab.

Persinggahan anggota delegasi Komite Hijaz di Singapura pun berakhir pada hari Selasa 26 Syawal 1346 Hijri (16 April 1928), di mana keduanya melanjutkan pelayaran menuju Jeddah, pelabuhan utama Hijaz.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.