Keinginan Syaikh Fadhlullah untuk Membuat Organisasi Semacam NU di Singapura
Dalam pertemuan antara delegasi Komite Hijaz (KH. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir) dengan para ulama, tokoh, dan umat Muslim Singapura, rupanya Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi mengutarakan niatnya untuk membuat sebuah organisasi keislaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Singapura, sebagaimana Nahdlatul Ulama (NU) yang telah terbentuk di Jawa.
Syaikh Fadhlullah bin Suhaimi mengatakan dalam pidato sambutannya (sebagaimana dikutip dalam memoar catatan Komite Hijaz 1928):
“…Dan kita syukur kepada Rabb al-‘Izzah yang kita penduduk tanah Singapur ini waktu sudah ada cita-cita akan mendirikan satu perkumpulan yang maksudnya sama dengan Nahdlatul Ulama. Dan sudah kejadian dua kali berkumpul. Akan tetapi masih ada bertengkaran dari hal nama saja. Ada yang minta nama I’tihsôm Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Maka dengan sepenuh-penuh pengharapan supaya kita anak negeri di sini (Tanah Melayu) dengan selekas-lekasnya dapat mendirikan kumpulan yang kita harapkan itu.
Kemudian lantas bersambunglah kita dengan Nahdlatul Ulama di Surabaya, Jawa. Dan kami menguraikan lagi dengan sangat pengharapan kami supaya sekalian hadirin sama memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang diuraikan oleh dua utusan tadi. Dan sungguh pun orang yang berkewajiban menerang-nerangkan keislaman kepada umum itu ialah kita kaum yang terpelajar. Lebih pula bangsa guru-guru dan qadhi-qadhi. Agar supaya kaum yang belum terserang fitnah-fitnah tadi bisa menjadi selamat...”
Kampung Glam Kini
Dalam kunjungan ke Kampung Glam di Singapura pada bulan Mei 2024 silam, saya melakukannya bersama dengan Gus Dr. Muhammad Najih dan Pak Khairul Anam. Di sana, rupanya kami berjumpa dengan Pak Ainun Najib, seorang praktisi teknologi informasi asal Gresik (Jawa Timur) yang berdomisili di Singapura; juga dengan Dr. Ayang Utriza Yakin, akademisi Indonesia yang mengajar di Université Catholique de Louvain (Belgia) dan sedang melakukan riset di Singapura.
Dalam kunjungan itu pula, kami merasa mendapat kehormatan karena ditemani oleh Tuan Ahmad Ubaidillah Mohamed Khair Ahmad Ubaidillah, cendikiawan muda Singapura yang juga pejabat pada Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS).
Saat itu, kami tidak lagi mendapatkan jejak percetakan kitab-kitab Melayu-Nusantara yang pernah dikembangkan oleh orang-orang Jawa di Kampung Glam Singapura pada satu setengah abad silam. Saat ini, sebagian besar kitab-kitab Melayu-Nusantara yang pernah dicetak di Singapura pada kurun masa abad ke-19 dan 20 M tersebut tersimpan sebagai koleksi Perpustakaan Nasional Singapura.
Sebagai penggantinya, kami masih sempat mengunjungi kedai buku Nurul Anwar yang memiliki banyak koleksi buku-buku Melayu dan kitab-kitab Jawi. Di kedai buku tersebut, ternyata saya mendapati dua buah karya sederhana saya. Yang pertama adalah Mahakarya Islam Nusantara (Jakarta: Pustaka Compass, 2017), serta al-Mukhtashar al-Hawi fî Tarâjim Ba’dh ‘Ulamâ Bilâd Jâwî (Depok: Maktabah al-Turmusi, 2022).
Hal sedih lainnya, adalah kami juga tidak berkesempatan untuk menziarahi makam Syaikh Fadhlullah Suhaimi, ulama besar Singapura keturunan Jawa yang juga kawan dekat KH. Abdul Wahhab Chasbullah, karena jam kunjung (ziarah) sudah habis. Semoga suatu saat nanti, kami dapat berkunjung kembali ke Singapura dan berziarah ke makam Syaikh Fadhlullah.
Wallahu A’lam
Buitenzorg, Syawal 1446 Hijri
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

•] catatan ini ditulis untuk mengenang 100 tahun persinggahan Komite Hijaz [KH. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir] di Singapura (Syawal 1346 – Syawal 1446)